• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Masyarakat Harus Mulai Men...

Masyarakat Harus Mulai Menjalankan Ekotheologi: dari Ego ke Eko

Minggu, 08 Mar 2026, 19:59 WIB

JAKARTA -  Zaman sekarang sudah bukan eranya lagi untuk merusak alam atau lingkungan. Sebaliknya semua harus mulai menerapkan ekotheologi. Ekotheologi adalah ajakan untuk mencintai alam sebagai sesama ciptaan Allah dengan cara memelihara dan melindungi lingkungan agar bumi ini semakin nyaman ditinggali.

Banjir bandang di Aceh, Sumut, dan daerah lain memperlihatkan betapa ego masih menguasai diri kita dengan merusak alam, membantai hutan untuk diambil kayunya demi keuntungan egois kita. Kini saatnya meninggalkan hidup destruktif ini dengan memelihara lingkungan (ekologisme), sebagai sikap tobat ekologis yang mesti dijalankan masyarakat.

Ket. Foto: Salah satu pertemuan dalam rangka APP 2026, Sabtu (7/3), di Tangerang — Sumber: ist

Inilah juga bagian dari tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) “Pertobatan Ekologis untuk Merawat Bumi, Rumah Kita Bersama.” Ini sejalan dengan Arah Dasar KAJ Tahun 2026 yang berfokus pada “Keutuhan Alam Cipataan.” Cara yang bisa dilakukan secara sederhana: memilah sampah sesuai dengan jenisnya, tidak mencampur seluruh sampah dalam satu tempat.

20260308195706_feli2.jpg

Contoh pengelompokan sampah dalam pemilahan

Dalam permenungan APP 2026 untuk menyambut Paskah ada empat pertemuan dengan tema: Harmoni seluruh ciptaan (Relasi dengan Bumi, Rumah Kita Bersama); Pembaruan dalam Diri (Hidup Sederhana dan Secukupnya); Dipersatukan oleh Keprihatinan yang Sama (dari ego ke eko); Menciptakan ekonomi Sirkular (Upaya Hidup Bersama Lebih Baik)

Pesan intinya adalah mengenai paham bahwa ciptaan (termasuk alam/lingkungan) adalah hadiah dari Allah, yang harus diterima dengan  rasa syukur dan hormat. Melihatnya sebagai barang konsumsi  mendorong eksploitasi (pembalakan). Pandangan iman mengajarkan kita untuk  merawat, bukan menguasai ciptaan. 

Kesadaran akan hidup bersama mengajak kita melihat bahwa segala  sesuatu saling terhubung, manusia, alam, dan seluruh ciptaan.  Dalam semangat ekonomi sirkular, kita diajak menjaga bumi dengan  menggunakan sumber daya secara bijak dan bertanggung jawab.  Setiap orang, sesuai kapasitas masing-masing melalui inovasi dan  kreaktivitasnya dapat berkontribusi usaha mengurangi limbah,  memperpanjang rantai pemakaian suatu produk, memperbaiki dan  merawat. Dari langkah-langkah kecil itu, tumbuhlah harapan baru  bagi rumah bersama kita yang lebih baik.

Allah menciptakan manusia karena cinta-Nya, diciptakan  segambar dan serupa dengan-Nya. Allah yang mencintai manusia,  memberinya karunia-karunia, agar dalam keserupaan ia dapat  menanggapi pangilan. Untuk bersama-sama Allah, memelihara  dan melanjutkan penciptaan dengan bekerja dan melayani, demi  hidup dan keberlanjutan hidup manusia, agar Allah dan segenap ciptaan-Nya berdiam di dalam cinta-Nya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.