Liga Inggris: Tottenham Makin Terpuruk ke Zona Degradasi Usai Takluk dari Palace

Jumat, 06 Mar 2026, 05:41 WIB

LONDON — Krisis yang melanda Tottenham Hotspur kian dalam setelah mereka menelan kekalahan 1-3 dari Crystal Palace pada laga Liga Inggris, Jumat (6/3) dini hari WIB. Kekalahan ini membuat Spurs semakin terperosok dalam ancaman degradasi.

Tim asuhan Igor Tudor sebenarnya sempat membuka harapan saat Dominic Solanke membawa tuan rumah unggul lebih dulu pada babak pertama. Namun, keunggulan tersebut sirna dengan cepat setelah Palace mencetak tiga gol hanya dalam rentang 12 menit menjelang turun minum di Stadion Tottenham Hotspur, London utara.

Ket. Foto: Pemain Tottenham Hotspur dan Crystal Palace berebut bola dalam laga Liga Inggris, Jumat (6/3) dini hari WIB. — Sumber: AFP

Momen krusial yang mengubah jalannya pertandingan terjadi ketika bek Spurs, Micky van de Ven, melakukan pelanggaran profesional terhadap Ismaila Sarr di kotak penalti. Tindakan ceroboh itu membuatnya diganjar kartu merah, sementara Sarr sukses mengeksekusi penalti untuk menyamakan kedudukan.

Palace kemudian berbalik unggul melalui gol Jørgen Strand Larsen sebelum Sarr mencetak gol keduanya. Situasi tersebut membuat suasana di Stadion Tottenham Hotspur berubah panas dan penuh ketegangan.

Ribuan suporter meninggalkan stadion lebih awal, sementara sebagian fans yang tersisa melontarkan cemoohan kepada Tudor dan para pemainnya saat peluit akhir dibunyikan.

Kekalahan ini membuat Tottenham terdampar di posisi ke-16 klasemen, hanya terpaut satu poin dari zona degradasi setelah West Ham United, yang berada di posisi ke-18, meraih kemenangan atas Fulham sehari sebelumnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, Spurs kini menelan lima kekalahan beruntun di liga dan tidak meraih kemenangan dalam 11 laga terakhir di kompetisi kasta tertinggi, catatan terburuk mereka sejak 1975.

Rekor kandang pun memprihatinkan. Tottenham hanya meraih satu kemenangan dari 13 pertandingan liga terakhir di markas sendiri. Situasi ini menempatkan klub London tersebut dalam bahaya besar untuk terdegradasi ke divisi kedua untuk pertama kalinya sejak musim 1977–1978—yang hingga kini menjadi satu-satunya musim mereka berada di luar kasta tertinggi sejak 1950.

Tottenham masih memiliki sembilan pertandingan tersisa untuk menyelamatkan diri dari degradasi mengejutkan. Ujian berikutnya adalah laga tandang berat ke markas Liverpool pada 15 Maret.

Sebelum itu, Spurs juga harus menjalani leg pertama babak 16 besar UEFA Champions League melawan Atlético Madrid pada Selasa mendatang. Namun di tengah krisis yang mereka alami, kompetisi Eropa kini tampak bukan lagi prioritas utama.

Sejak menggantikan pelatih yang dipecat, Thomas Frank, Tudor belum mampu membawa perubahan berarti. Spurs sudah lebih dulu kalah dari rival sekota Arsenal dan Fulham dalam dua laga awal era kepelatihannya, sebelum kini kembali dipermalukan Palace.

Jika terdegradasi, Tottenham diperkirakan akan kehilangan pendapatan hingga 260 juta poundsterling, sebagaimana dilaporkan pekan ini. Situasi tersebut akan menjadi pukulan telak bagi klub yang tahun lalu sudah mencatat kerugian sebesar 129 juta poundsterling, pada periode ketika mereka memiliki biaya operasional tertinggi ketiga di antara klub-klub Eropa.

Tudor sebelumnya sempat melontarkan kritik keras kepada para pemainnya setelah kekalahan dari Fulham. Ia menegaskan bahwa tekanan dalam pertarungan degradasi tidak bisa dibandingkan dengan tekanan nyata yang dihadapi profesi seperti dokter.

Namun, kegugupan Tottenham sudah terlihat sejak awal laga. Pertandingan bahkan belum berjalan satu menit ketika gelandang Palace, Adam Wharton, mendapatkan ruang tembak luas yang memaksa kiper Guglielmo Vicario melakukan penyelamatan gemilang.

Palace sempat mengira telah unggul saat Strand Larsen mengirim umpan kepada Sarr yang kemudian melepaskan tembakan yang membentur Pedro Porro dan masuk ke gawang. Namun, setelah pemeriksaan VAR yang cukup lama, gol tersebut dianulir karena Sarr dinilai berada dalam posisi offside.

Tottenham justru memanfaatkan momentum itu untuk mencetak gol pembuka pada menit ke-34. Archie Gray menusuk dari sisi kanan sebelum mengirim umpan rendah yang disambar Solanke dengan tendangan voli jarak dekat.

Keunggulan Spurs tak bertahan lama. Pada menit ke-40, Van de Ven gagal mengawal Sarr di kotak penalti dan panik menarik penyerang Senegal itu. Wasit langsung memberikan kartu merah kepada bek asal Belanda tersebut sekaligus menunjuk titik putih.

Sarr dengan tenang mengecoh Vicario dari eksekusi penalti untuk menyamakan skor.

Tudor mencoba mengubah taktik dengan memasang lima bek, tetapi keputusan itu tak mampu menghentikan dominasi Palace. Tottenham kembali melakukan kesalahan sendiri ketika Mathys Tel kehilangan bola di area berbahaya. Wharton dengan cepat mengirim umpan kepada Strand Larsen yang menuntaskannya dengan tembakan keras dari jarak enam meter.

Petaka Spurs belum berakhir. Menjelang turun minum, umpan akurat Wharton kembali membongkar pertahanan rapuh tuan rumah. Sarr menyambar bola untuk mencetak gol keduanya dan memastikan keunggulan Palace.

Gol tersebut memicu eksodus besar-besaran para suporter yang berbondong-bondong meninggalkan stadion.

Malam yang pahit bagi Tudor mencapai titik klimaks ketika Porro, yang ditarik keluar, terlihat meluapkan emosinya kepada sang pelatih asal Kroasia sebelum melempar botol minuman ke lapangan, simbol kekacauan yang tengah melanda Tottenham.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.