Rupiah Hari Ini Tertekan! Perang Amerika Serikat–Israel Melebar ke Lebanon, Pasar Keuangan Bergejolak
Selasa, 03 Mar 2026, 17:45 WIBJAKARTA â Pelemahan rupiah tak bisa dilepaskan dari memanasnya konflik di Timur Tengah, terutama setelah perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel meluas hingga ke wilayah Lebanon.
Eskalasi ini meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor mencari aset aman (safe haven) seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi fundamental, konflik yang melebar juga memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dan lonjakan harga minyak dunia.
Bagi Indonesia yang masih sensitif terhadap fluktuasi harga energi dan arus modal asing, sentimen global seperti ini cepat tercermin pada pasar valas domestik.
Jika tensi geopolitik terus meningkat, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut, kecuali diimbangi respons kebijakan moneter yang sigap serta stabilitas ekonomi dalam negeri yang tetap terjaga.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa (3/2), bergerak melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.872 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.868 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi perang AS-Israel yang meluas dengan Iran dan Lebanon.
âPerang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz,â ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Kapal tanker dan kapal kontainer juga dikatakan menghindari jalur air tersebut karena perusahaan asuransi telah membatalkan pertanggungan mereka untuk kapal-kapal itu, sementara tarif pengiriman minyak dan gas global telah melonjak.
Kekhawatiran tentang transit di jalur air tersebut meningkat setelah pejabat senior Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan Iran akan menembak kapal manapun yang mencoba melewatinya.
âSekitar 20 persen minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz,â kata Ibrahim.
Di sisi lain, laporan data ekonomi dari domestik menunjukkan capaian yang positif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 mengalami surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
âNeraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak Mei 2020. Surplus pada Januari 2026 ditopang oleh surplus pada komoditi nonmigas sebesar 3,22 miliar dolar AS,â ujar dia.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.870 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.848 per dolar AS.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pasar Jaya Kerahkan 33 Truk Angkut Sampah di Pasar Induk Kramat Jati
-
Pertamina Tambah 9 Juta Tabung Elpiji 3 Kg di Jateng-DIY
-
Cari Informasi Lebih Cepat Tanpa Pindah Aplikasi lewat Circle to Search
-
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Berkala Kebijakan Penahanan Harga BBM
-
Akses Tani Kini Mulus, TMMD Kutai Barat Sukses Tembus Jalan 3.500 Meter dalam 30 Hari
-
Persis Keluar dari Zona Degradasi Setelah Menang 3-0 atas Bali United
-
Pemkot Tangerang Larang ASN Keluar Kota saat "WFA"
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.