Perang Timur Tengah Memanas, Rupiah Hari Ini Tertekan: Ekonomi RI di Ujung Ujian?
Senin, 02 Mar 2026, 18:10 WIBJAKARTA â Pelemahan rupiah tak bisa dilepaskan dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali memanaskan sentimen global. Ketegangan geopolitik mendorong lonjakan harga minyak dan memperkuat arus pelarian modal ke aset safe haven seperti dolar AS.
Dalam konteks ini, rupiah tertekan bukan semata karena faktor domestik, melainkan kombinasi sentimen global dan ekspektasi pasar terhadap risiko yang meningkat.
Bagi Indonesia, dampaknya berlapis. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga energi berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan APBN melalui beban subsidi.
Di sisi lain, pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku industri, yang pada akhirnya bisa memicu tekanan inflasi. Jika tekanan ini berlarut, daya beli masyarakat dan margin pelaku usaha akan tergerus.
Meski demikian, fondasi makroekonomi Indonesia relatif lebih kuat dibanding periode krisis sebelumnya, dengan cadangan devisa yang memadai dan koordinasi kebijakan moneter-fiskal yang semakin solid.
Tantangannya kini adalah menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan, terutama di tengah ketidakpastian global yang sulit diprediksi.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin (2/3) pagi, bergerak melemah 81 poin atau 0,48 persen menjadi Rp16.868 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.787 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah dipicu perang di Timur Tengah yang berpotensi memukul ekonomi Indonesia lewat kejutan harga energi dan gejolak pasar keuangan global yang berpusat pada risiko gangguan pasokan.
âKetika tensi meningkat, perhatian pasar segera mengarah ke Selat Hormuz karena arus tanker dapat melambat bahkan tertahan, sementara pelayaran dan logistik ikut terganggu,â katanya di Jakarta.
Dalam eskalasi terbaru, lanjutnya, ada indikasi pengapalan minyak dan gas alam cair di Hormuz yang banyak tertahan, perusahaan pelayaran besar menghindari Teluk Persia, dan aktivitas pelabuhan utama sempat ditangguhkan, sehingga biaya angkut dan asuransi cenderung naik dan pasokan energi menjadi efektif lebih ketat.
Pada kondisi seperti ini, kenaikan biaya asuransi dan pengalihan rute saja dinilai sudah cukup menambah dorongan inflasi energi global.
Karena itu, harga minyak bisa melonjak tajam. Misalnya minyak acuan sempat naik sekitar 13 persen hingga sekitar 82 dolar AS per barel meskipun saat ini berada di kisaran 76,4 dolar AS per barel, dan skenario penutupan penuh Hormuz diperkirakan bisa mendorong harga melampaui level 100 dolar AS per barel yang berimplikasi pada rata-rata harga minyak mentah Brent sepanjang tahun 2026 ini di kisaran 85 dolar AS per barel.
âDampak ke rantai pasok global makin besar karena Hormuz adalah titik sempit yang dilalui porsi besar perdagangan minyak dan gas alam cair, sehingga guncangan kecil cepat merembet ke biaya logistik. Proyeksi tarif sewa tanker minyak yang berpotensi mendekati 300 ribu dolar AS per hari menunjukkan besarnya tekanan biaya angkut energi saat risiko Hormuz meningkat,â ungkap dia.
Melihat dari sisi pasar keuangan, perang disebut mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga dolar AS cenderung menguat dan biaya pendanaan negara berkembang berisiko naik.
âKombinasi dolar yang menguat dan harga energi yang naik membuat mata uang negara pengimpor energi lebih rentan tertekan, sementara arus modal lebih selektif dan premi risiko meningkat,â ucap Josua.
Bagi Indonesia, konsekuensi paling cepat terasa adalah biaya impor bahan bakar membengkak karena negara ini merupakan pengimpor bersih minyak.
Hal ini memperburuk neraca perdagangan migas, menekan rupiah, dan pada akhirnya menambah tekanan inflasi melalui kenaikan harga energi, ongkos transportasi, serta inflasi barang impor.
Pengalaman episode eskalasi sebelumnya menunjukkan pola transmisi ini, yaitu pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil surat berharga negara tenor 10 tahun, dan pasar saham ikut terkoreksi saat sentimen global memburuk.
Tekanan eksternal ini kemudian berubah menjadi dilema kebijakan domestik. Jika harga minyak melonjak jauh di atas asumsi anggaran, ucap dia, pemerintah harus memilih antara menahan harga bahan bakar dengan konsekuensi subsidi membengkak atau menyesuaikan harga dengan konsekuensi inflasi lebih tinggi dan daya beli melemah.
Secara fiskal, sensitivitas besar karena setiap kenaikan 1 dolar AS pada harga minyak acuan anggaran dapat menambah belanja sekitar Rp10 triliun, sementara penerimaan hanya naik sekitar Rp3 triliun, sehingga defisit bersih berpotensi melebar.
Menimbang hal tersebut, upaya mitigasi harus dilakukan dengan menjaga stabilitas rupiah dan pasokan valas melalui langkah moneter dan penguatan pasokan devisa ekspor, sekaligus menyiapkan bantalan fiskal dan bantuan terarah bagi kelompok rentan.
âDalam konteks ini, ruang bantalan anggaran dan penguatan jaring pengaman sosial menjadi kunci agar guncangan energi tidak berubah menjadi perlambatan ekonomi yang lebih dalam,â ujar Josua.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.848 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.779 per dolar AS.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pasar Jaya Kerahkan 33 Truk Angkut Sampah di Pasar Induk Kramat Jati
-
Pertamina Tambah 9 Juta Tabung Elpiji 3 Kg di Jateng-DIY
-
Cari Informasi Lebih Cepat Tanpa Pindah Aplikasi lewat Circle to Search
-
Akses Tani Kini Mulus, TMMD Kutai Barat Sukses Tembus Jalan 3.500 Meter dalam 30 Hari
-
Persis Keluar dari Zona Degradasi Setelah Menang 3-0 atas Bali United
-
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Berkala Kebijakan Penahanan Harga BBM
-
Pemkot Tangerang Larang ASN Keluar Kota saat "WFA"
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.