Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sebagai Negara Agraris, RI Harus Terapkan Teknologi Pertanian Canggih

📅 Senin, 16 Feb 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Lebih lanjut dijelaskan kalau ketahanan pangan berbicara tentang ketersediaan dan akses, termasuk melalui impor. Sementara kedaulatan pangan menekankan kemampuan produksi domestik dan kontrol atas sistem pangan. Indonesia tampaknya terlalu nyaman dengan pendekatan ketahanan berbasis impor, tetapi belum cukup berani membangun kedaulatan berbasis produktivitas dan teknologi. Impor bukanlah solusi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

Kebergantungan impor sangat rentan terhadap gejolak harga global, fluktuasi nilai tukar, gangguan rantai pasok global bahkan kondisi geopolitik internasional. Memang dalam jangka pendek, impor memang menjadi cara cepat untuk memenuhi ketersediaan bahan pangan.

“Kebergantungan impor tidak hanya akan melemahkan posisi petani selaku produsen utama,” katanya.

Di tingkat petani, harga komoditas akan semakin fluktatif dan cenderung akan merugikan petani, terutama saat musim panen. Kondisi itu membuat petani dihadapkan pada ketidakpastian pasar. Akan tetapi, juga berdampak terhadap seluruh rantai subsitem agribisnis pertanian mulai dari industri hulu (industri benih, pupuk, peralatan pertanian), usaha tani, industri hilir (pengolahan), dan distribusi serta rantai pemasaran juga akan terganggu.

Dengan melemahnya kinerja seluruh rantai subsitem agribisnis ini, dampaknya tidak saja hanya kerugian petani, namun kerugian ekonomi nasional yang lebih besar termasuk hilangnya nilai tambah dan kehilangan lapangan pekerjaan.

Sistem pertanian saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan teknologi konvensional. Pertanian saat ini telah dihadapkan pada tantangan perubahan iklim, peningkatan suhu, pergeseran musim dan kekeringan. Dibutuhkan pengembangan varietas benih yang bisa menjawab semua tantangan seperti itu, serta produktivitas yang tinggi.

Anggaran penelitian terkait pertanian harus ditingkatkan, melakukan modernisasi pertanian dan manajemen air khususnya pada saat musim kemarau. Regenerasi petani juga harus dilakukan dengan menghadirkan petani yang ‘melek’ teknologi dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Pengurangan impor secara bertahap, tidak dapat dicapai hanya dengan kebijakan pembatasan perdagangan semata. Indonesia harus memiliki rencana jangka panjang untuk pembanguan pertanian. Kunci utamanya terletak pada penguatan usaha tani dan percepatan implementasi teknologi. Peningkatan produktivitas melalui benih/bibit unggul, mekanisasi, modernisasi irigasi, dan pemanfaatan digitalisasi dan Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pertanian.

Pemerintah tambahnya harus mengevaluasi arah pembangunan sektor pertanian nasional jika ingin benar-benar mencapai kemandirian pangan. Perlunya evaluasi itu dengan melihat pendekatan yang dilakukan Tiongkok di mana Pemerintahnya lebih fokus pada penguatan teknologi dan peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada.

Sementara itu, Anggota DPD Pemuda Tani Indonesia (PTI), Pranasik Faihaan, menilai Indonesia punya persoalan mendasar dalam tata kelola sektor pertanian nasional. “Kita punya lahan luas, iklim tropis yang mendukung, dan petani yang berpengalaman. Tetapi jika kebijakan tidak konsisten dan produksi dalam negeri tidak diproteksi dengan serius, maka impor akan terus menjadi pilihan instan,” kata Pranasik.

Pranasik menyoroti fakta bahwa sejumlah lahan pertanian dan perkebunan yang selama ini terbukti produktif justru menghadapi berbagai gangguan, mulai dari persoalan perizinan, konflik tata ruang, hingga minimnya dukungan infrastruktur. Ketika lahan produktif terganggu atau beralih fungsi tanpa perencanaan matang, produksi dalam negeri otomatis menurun.

Dalam situasi tersebut, pemerintah kerap menjawab kekurangan pasokan dengan membuka keran impor. “Ini pola yang harus diputus. Jangan sampai yang sudah menghasilkan malah tidak dijaga keberlanjutannya,” katanya.

Di sisi lain, dia mengapresiasi sejumlah langkah yang mulai dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo, terutama kebijakan Bulog yang membeli hasil produksi petani dalam kondisi apa pun (at any condition) guna menjaga stabilitas serapan dan harga di tingkat petani. Langkah itu memberi kepastian pasar yang sangat dibutuhkan petani, terutama saat panen raya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
Olahraga
Alwi Farhan Memperpanjang N...
Megapolitan
Perubahan APBD DKI 2026 Dis...
Ekonomi
Rupiah Hari ini Tertekan, E...
Advertisement
Alwi Farhan Memperpanjang Napas, Tundukkan Li Shi Feng, Posisi 1-2

Alwi Farhan Memperpanjang Napas, Tundukkan Li Shi Feng, Posisi 1-2

24 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.