Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sebagai Negara Agraris, RI Harus Terapkan Teknologi Pertanian Canggih

📅 Senin, 16 Feb 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Sebagai Negara Agraris, RI Harus Terapkan Teknologi Pertanian Canggih Doc: antara
Ket. Modernisasi alat pertanian dukung swasembada pangan

Indonesia terlalu nyaman dengan pendekatan ketahanan berbasis impor, tetapi belum cukup berani membangun kedaulatan berbasis produktivitas dan teknologi.

JAKARTA - Hingga saat ini, Indonesia tetap menyandang identitas sebagai negara agraris. Sebab itu, sangat ironis jika kenyataannya dalam memenuhi kebutuhan pangan warganya, Indonesia harus mengimpor beberapa komoditas karena tidak bisa dipenuhi dari produksi petani lokal. 

Pengamat Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Gusti Artama Gultom di Jakarta, Minggu (15/2) mengatakan identitas Indonesia sebagai negara agraris karena memiliki lahan atau tanah yang subur, mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun, tapi sangat disayangkan masih jadi importir bahan pangan.

Beberapa bahan pangan yang menjadi langganan impor yakni jagung, daging, gula dan gandum.

“Hingga saat ini, Indonesia masih sepenuhnya bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan gandum, bahkan bahan baku tempe dan tahu pun Indonesia masih harus impor,”ungkap Gusti kepada Koran Jakarta (14/2).

Di tengah narasi lumbung pangan dunia dan swasembada pangan, identitas Indonesia sebagai negara agraris menjadi pertanyaan. Negara agraris sangat identik dengan tanah yang subur, lahan pertanian yang luas, iklim tropis dengan cahaya matahari sepanjang waktu, juga mayoritas penduduk yang bekerja sebagai petani.

“Faktor ini tidak lagi cukup untuk menggambarkan Indonesia sebagai negara agraris,”ungkapnya.

Jika jati diri Indonesia tutur Gusti adalah negara agraris, semestinya identitas ini tidak hanya kisah di masa lalu saja dimana Indonesi pernah menjadi eksportir gula, sapi, bahkan mencapai swasembada pangan.

Sebagai negara agraris, seharusnya dibarengi dengan penerapan teknologi pertanian yang maju, peningkatan produktivitas pertanian yang tinggi, sistem pertanian yang efisien, sumber daya petani yang mumpuni, dan memiliki kebijakan yang mendukung kuat pertanian.

Indonesia kini menduduki peringkat ke-4 dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Di satu sisi, Indonesia justru menduduki peringkat ke-63 dari 113 negara untuk Global Food Security Index (GFSI). Sementara negara tetangga yakni Malaysia dan Singapore berada pada peringkat ke-41 dan ke-28.

Peringkat GFSI ini menggambarkan sejauh mana keterjangkauan, ketersediaan, kualitas dan keamanan pangan, serta sumber daya alam dan ketahanan pangan.

Dalam ilmu ekonomi, memang impor tidaklah selalu salah. Jepang, meski sudah memiliki teknologi pertanian yang sudah maju, juga masih mengimpor sebagian kebutuhan bahan pangannya. Namun, kunci utama yang membedakan adalah struktur ekonomi dan daya tawar negara tersebut dalam perdagangan global.

Aktivitas impor bagi negara maju dan kuat seperti Jepang, merupakan pilihan yang rasional, artinya ada faktor lain yang menyebabkan impor menjadi lebih rasional dibandingkan harus memproduksi sendiri. Faktor itu dapat disebabkan keterbatasan lahan atau biaya produksi di negaranya lebih tingi akibat upah yang tinggi pula.

Ketahanan vs Kedaulatan

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Arema FC Mengikuti Langkah PSIM, Memecat Pelatih

32 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Arema FC Mengikuti Langkah ...

Rano karno Buka Jakarta Financial Festival Blok M Square

48 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Rano karno Buka Jakarta Fin...

Pengamat : Salvage KMP Batumandi Patut Dicontoh

1 jam lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Pengamat : Salvage KMP Batu...

Jakarta Merintis Diri Menjadi Hub Ekonomi Kreatif

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakarta Merintis Diri Menja...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.