Waingapu Jadi Sentra Baru, KKP Bangun Tambak Udang Raksasa Rp7,2 Triliun

Rabu, 11 Feb 2026, 20:40 WIB

BANYUWANGI – Pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi berpotensi menjadi pengungkit baru bagi ekspor perikanan sekaligus penguatan ekonomi pesisir.

Dengan konsep hulu–hilir yang terhubung—mulai dari pembenihan, pakan, budidaya, pengolahan hingga logistik—model ini mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya, dan standar keberlanjutan.

Ket. Foto: Pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi dimulai di Waingapu Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. — Sumber: ANTARA/HO-KKP

Namun keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, kualitas SDM, pengelolaan lingkungan, serta kepastian pasar.

Tanpa tata kelola yang kuat, kawasan terintegrasi berisiko menghadapi persoalan klasik seperti penyakit udang dan degradasi ekosistem, yang justru dapat menggerus daya saing industri.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, dengan nilai investasi mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp7,2 triliun.

Proyek ini digadang sebagai program strategis nasional untuk memperkuat industri perikanan budi daya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Tb Haeru Rahayu, dalam siaran pers yang diterima di Banyuwangi, Rabu (11/2), menjelaskan kawasan ini dikembangkan dengan konsep Integrated Shrimp Farming (ISF)

Kawasan ISF tersebut mencakup pembangunan sarana hulu hingga hilir seperti intake air laut, tandon utama, kolam budidaya, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), fasilitas kawasan, penghijauan, serta pengadaan peralatan dan mesin.

“Kawasan ini dirancang sebagai role model pengembangan budi daya udang nasional yang modern, ramah lingkungan, dan berdaya saing global,” ujar Tebe, sapaan Tb Haeru Rahayu.

Dengan luas lahan sekitar 2.150 hektare, kawasan tambak ini ditargetkan mampu menghasilkan 55 ton per hektare per siklus, dengan proyeksi produksi mencapai 52.800 ton udang per tahun.

Selain peningkatan produksi, pembangunan juga menekankan pada penguatan sumber daya manusia lokal, penciptaan lapangan kerja, serta penerapan standar akuakultur yang baik dan berkelanjutan.

Tebe menjelaskan pada tahap awal konstruksi telah berjalan dengan dukungan puluhan alat berat dan penyerapan tenaga kerja lokal dalam pembangunannya. Adapun lokasi pembangunan dilakukan di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur.

Pemerintah daerah menyambut positif proyek ini, yang diyakini akan menjadi penggerak ekonomi baru di Sumba Timur.

Kepala Desa Palakahembi Arif Maramba menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas dimulainya pembangunan kawasan tersebut.

Ia menyebut kehadiran proyek strategis ini membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi desa dan penciptaan lapangan kerja baru.

“Kami optimistis pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi ini akan menjadi penggerak ekonomi baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda di Sumba Timur,” kata dia.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.