Rupiah Rawan Melemah, 11 Februari 2026
Rabu, 11 Feb 2026, 08:35 WIBJAKARTA â Rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan tengah pekan seiring sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Laporan tersebut menjadi penentu arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed), sehingga mendorong investor global menahan posisi di aset berisiko dan memperkuat preferenÂsi terhadap dolar AS. Kondisi ini berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk InÂdonesia.
Analis pasar uang, Lukman Leong menilai rilis data teÂnaga kerja AS berpotensi memengaruhi arah pergerakan dollar AS dan sentimen global. Karenanya, Lukman memÂproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdaÂgangan di pasar uang antarbank, Rabu (11/2), bergerak fluktuatif di kisaran 16.750-16.900 rupiah per dollar AS deÂngan kecenderungan melemah terbatas.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perdaÂgangan di Jakarta, Selasa (10/2), bergerak melemah 6 poin atau 0,04 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.811 rupiah per dollar AS. Pengamat pasar uang Ibrahim AsÂsuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi eskalasi keÂtegangan antara AS dengan Iran yang tetap tinggi.
âDepartemen Perhubungan AS, melalui Administrasi Maritim, pada Senin (9/2) menyarankan kapal-kapal berÂbendera AS untuk tetap sejauh mungkin dari wilayah Iran saat melewati Selat Hormuz dan Teluk Oman. Badan terÂsebut menyarankan kapal-kapal berbendera AS untuk teÂtap dekat dengan Oman selama penyeberangan, dengan alasan risiko diserbu oleh pasukan Iran,â katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Peringatan tersebut dinilai menimbulkan kekhawatiran atas ketegangan antara AS dan Iran, kendati kedua negara mencatat kemajuan selama pembicaraan akhir pekan baÂru-baru ini dan berjanji untuk terlibat dalam lebih banyak diskusi tentang program nuklir Teheran. Dalam diskusi, Iran juga menolak seruan untuk menghentikan pengayaÂan nuklir, yang menjadi poin utama perselisihan bagi WaÂshington.
Selain itu, para investor juga menunggu data ekonomi dari AS, seperti penggajian non-pertanian bulan Januari 2026 yang akan dirilis pada Kamis (12/2) dan inflasi indeks harga konsumen pada Sabtu (14/2).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Hasil Piala Jerman: Bayern Muenchen ke Final Usai Singkirkan Bayer Leverkusen 2-0
-
BI Ungkap Kinerja QRIS Global di Bali, Nilainya Cukup Fantastis
-
Psikolog: Korban Kecelakaan KA Berisiko Alami Gangguan PTSD, Trauma Healing Penting!
-
Pengamat: Roblox dan YouTube Wajib Patuhi Aturan Perlindungan Anak di Ruang Digital
-
Perkuat Energi Hijau untuk Tarik Investasi Global
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.