Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hashim Djojohadikusumo Soroti Praktik “Saham Gorengan” di Forum China Conference Southeast Asia

📅 Rabu, 11 Feb 2026, 04:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Hashim Djojohadikusumo Soroti Praktik “Saham Gorengan” di Forum China Conference Southeast Asia Doc: ANTARA
Ket. Tangkapan layar - Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo (kanan) saat menjadi pembicara dalam forum China Conference Southeast Asia 2026 di St Regis Jakarta, Selasa (10/2).

Jakarta - Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo, dalam forum China Conference Southeast Asia 2026 di St Regis Jakarta, Selasa (10/2) malam, menyoroti praktik manipulasi harga saham atau yang dikenal dengan istilah “saham gorengan".

Dalam sesi tanya jawab, Hashim mengungkapkan keheranannya ada upaya pihak tertentu menaikkan harga saham secara tidak wajar melalui transaksi yang direkayasa, sehingga menciptakan kesan saham tersebut bernilai tinggi.

"Ada istilah dalam bahasa Indonesia yang disebut menggoreng saham. Itu artinya, memanipulasi harga saham," katanya diikuti dalam jaringan (daring) China Conference Southeast Asia.

Hashim menilai terdapat praktik pihak tertentu yang secara sengaja mendorong kenaikan harga saham secara tidak wajar melalui transaksi yang direkayasa, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah saham tersebut memiliki nilai tinggi.

Ia juga menyoroti adanya saham perusahaan kecil yang melonjak tajam tanpa ditopang kinerja bisnis yang memadai, sebagai indikasi penyimpangan yang perlu segera ditindak.

"Rupanya, ada saham dengan rasio price to earnings (PE) 167, satu lagi 300, satu lagi 1.200 kali, dan satu lagi 4.000 kali," katanya.

Hashim kemudian membandingkan fenomena itu dengan perusahaan-perusahaan mapan yang ditopang fundamental bisnis solid dan arus kas kuat, seperti Astra International (ASII).

“Bandingkan dengan Astra yang rasio PE-nya sekitar delapan kali. Lalu lihat NVIDIA, yang pasti sudah banyak dikenal. Rasio PE NVIDIA mungkin sekitar 60 kali,” katanya.

Meski demikian, Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia itu menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia secara umum tetap kuat dan pemerintah optimistis terhadap prospek ke depan.

Ia menyebut telah mengadakan pertemuan dengan tiga menteri pada pagi hari yang sama dan menangkap semangat optimisme dari jajaran pemerintah.

Menurut Hashim, pemerintah berkomitmen menindak oknum yang terlibat praktik tidak sehat di pasar modal.

Ia memperkirakan akan ada sanksi tegas, mulai dari pemecatan hingga pengenaan denda besar terhadap pihak yang terbukti melanggar.

“Terus terang, akan ada yang dipecat. Saya pikir bahkan denda, denda yang sangat besar, akan dikenakan. Ini akan memperbaiki,” ujarnya.

Adik kandung Presiden RI Prabowo Subianto itu pun menyatakan keyakinannya bahwa pembenahan tersebut akan memperkuat kepercayaan terhadap pasar dan mendukung stabilitas ekonomi nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Olahraga
Alwi Tersingkir dari French...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.