Tanggul Jebol & Sawah Tenggelam, Plt Bupati Bongkar Proyek Rahasia Penyelamat Petani Bekasi

Selasa, 10 Feb 2026, 07:00 WIB

KABUPATEN BEKASI - Pemerintah Kabupaten Bekasi mulai menjalankan langkah-langkah strategis untuk melindungi sektor pertanian dari ancaman anomali cuaca yang kian ekstrem. Dalam audiensi bersama perwakilan petani wilayah utara dari Kecamatan Cabangbungin dan Muaragembong, Senin (9/2), Plt. Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja menegaskan bahwa persoalan klasik berupa banjir di musim hujan dan kekeringan saat kemarau harus ditangani secara terintegrasi melalui pembangunan infrastruktur berkelanjutan.

Salah satu tumpuan utama adalah percepatan penyelesaian Bendung Sungai Hulu (BSH 0) yang diproyeksikan mampu menjamin ketersediaan irigasi bagi sedikitnya 7.620 hektare lahan sawah sekaligus berfungsi sebagai pengendali debit air di aliran Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL).

Ket. Foto: Plt. Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja menerima audiensi petani wilayah utara asal Kecamatan Cabangbungin dan Muaragembong di ruang rapat gedung Bupati Bekasi, kompleks perkantoran Pemkab Bekasi, Senin. — Sumber: ANTARA/Pradita Kurniawan Syah.

"Musim panas kekeringan, musim hujan kebanjiran. Ini PR kita ke depan. Ada siklus lima tahunan sekali dengan banjir yang sangat besar. Tapi kita tidak bisa berdiam diri, semua harus kita antisipasi," kata Asep di Cikarang, Senin.

Dia menekankan persoalan pertanian khususnya di wilayah utara Kabupaten Bekasi harus segera ditangani secara serius dan terintegrasi, terutama menghadapi siklus tahunan kekeringan saat kemarau dan banjir besar ketika memasuki musim hujan.

Salah satu upaya yang terus dikawal pemerintah daerah adalah penyelesaian pembangunan Bendung Sungai Hulu (BSH 0) di perbatasan Desa Sukajaya Kecamatan Cibitung dengan Desa Kalijaya, Cikarang Barat yang ditargetkan rampung pada awal Maret 2026.

Proyek strategis infrastruktur ini dirancang untuk menjamin ketersediaan air irigasi bagi sekitar 7.620 hektare lahan pertanian khususnya di wilayah utara Kabupaten Bekasi.

Selain irigasi, bendung ini berfungsi sebagai pengendali banjir di aliran Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL).

Bendung ini didesain memiliki delapan pintu air untuk mengatur debit air secara optimal. Asep meminta agar proses penyelesaian proyek tersebut terus dipantau, mengingat pekerjaan sempat terhambat akibat dinamika cuaca hujan dan banjir.

"Target awal Maret selesai. Jadi begini saja, silakan nanti perwakilan petani yang hadir ini ikut mendampingi di lapangan, supaya lebih tahu prosesnya. Kalau kondisi hujan terus, kita bisa sama-sama pantau dan saling komunikasi," ujarnya.

Menurut dia, pendampingan petani penting dilakukan agar tidak terjadi miskomunikasi apabila terdapat perubahan jadwal atau hambatan teknis di lapangan akibat kondisi cuaca.

Kemudian, dampak banjir terhadap sektor pertanian, termasuk kondisi gagal tanam yang dialami petani turut menjadi sorotan.

Dirinya meminta penanganan pasca banjir, termasuk upaya pemulihan lahan dan kebutuhan petani untuk kembali melakukan tanam, dapat berjalan cepat melalui koordinasi lintas instansi.

"Karena akibat banjir, banyak yang gagal tanam. Ini harus dipastikan penanganannya, jangan sampai miss," katanya.

Asep juga menyampaikan rencana jangka panjang untuk mengatasi persoalan kekeringan di lahan pertanian yakni melalui pembangunan sumur satelit tenaga surya, dengan mengambil contoh praktik yang telah diterapkan di Surabaya.

"Kita rencanakan jangka panjang belajar dari sumur satelit tenaga surya di Surabaya. Di tanah yang tandus bisa panen setahun tiga kali. Ini khusus untuk daerah kekeringan, sebagai alternatif mengairi sawah dari sumber air tanah," ucapnya.

Solusi tersebut, lanjut dia, perlu dipersiapkan sejak dini, terutama untuk wilayah pertanian yang kerap mengalami kekeringan, sekaligus menjadi bagian dari penguatan sektor pangan yang kini menjadi prioritas nasional.

Ia turut menekankan koordinasi lintas perangkat daerah agar penanganan pertanian, banjir, sampah sungai hingga infrastruktur bisa berjalan cepat dan tidak terhambat komunikasi. Kanal komunikasi khusus yang melibatkan perangkat daerah terkait perlu dibuatkan.

Selanjutnya, persoalan sampah di sejumlah sungai yang berdampak pada aliran air menjadi tersumbat. Pendataan titik-titik sumbatan, terutama pada lokasi jembatan rendah yang kerap menjadi tempat penumpukan sampah diperlukan untuk penanganan lebih lanjut.

"Saya ingin semua kali (sungai) di semua kecamatan diidentifikasi. Biasanya yang jembatan rendah itu menyangkut di situ. Didata ada berapa sungai yang tersumbat karena sampah. Saya ingin tahu," katanya.

Ia pun mengaku upaya penanganan banjir, khususnya penguatan tanggul, masih membutuhkan dukungan lintas kewenangan hingga anggaran besar. Pemerintah daerah terus mendorong langkah pencegahan agar dampak banjir tidak terus berulang setiap tahun.

"Kami berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan kesejahteraan petani. Saya juga mohon masukan agar para petani ini berjaya. Karena kalau petani makmur, negara akan jaya. Saya juga anak petani, jadi sedikit paham," kata dia.

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.