Antisipasi Virus Nipah Masuk Jakarta, DPRD DKI Minta Warga Bergejala Batuk Diperiksa

Selasa, 10 Feb 2026, 18:45 WIB

JAKARTA - Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk mencegah masuknya Virus Nipah ke Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan surveilans kesehatan, peningkatan kesiapan laboratorium, serta penyediaan alat screening berbasis polymerase chain reaction (PCR) di sejumlah wilayah.

Langkah antisipatif ini dinilai penting mengingat karakteristik Virus Nipah yang menyerang sistem pernapasan. Pemerintah menargetkan deteksi dini melalui pemantauan ketat terhadap warga yang menunjukkan gejala gangguan pernapasan.

Ket. Foto: Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk mencegah masuknya Virus Nipah ke Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan surveilans kesehatan, peningkatan kesiapan laboratorium, serta penyediaan alat screening berbasis polymerase chain reaction (PCR) di sejumlah wilayah. — Sumber: Pexels

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Rany Mauliani mengatakan, warga yang mengalami batuk berkepanjangan atau gejala pernapasan yang tidak kunjung sembuh perlu segera menjalani pemeriksaan. Screening dilakukan untuk memastikan penyebab gejala yang dialami masyarakat.

"Karena penularan Virus Nipah itu serupa Covid-19. Sama-sama menyerang paru-paru," ujar Rany Mauliani, beberapa waktu lalu.

Politisi Partai Gerindra itu menegaskan, pemeriksaan kesehatan sangat penting untuk membedakan penyebab gangguan pernapasan. Menurutnya, gejala serupa dapat disebabkan oleh berbagai virus, termasuk Virus Influenza, Covid-19, maupun Virus Nipah.

Rany menilai, tanpa pemeriksaan yang tepat, masyarakat berpotensi salah menilai kondisi kesehatannya. Hal tersebut dapat berdampak pada keterlambatan penanganan dan berisiko meningkatkan penyebaran penyakit.

Ia juga menyinggung pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang disampaikan pada akhir Januari 2026. Dalam pernyataannya, Menkes memastikan hingga kini belum ditemukan kasus positif Virus Nipah di Indonesia.

"Meski begitu, seperti dikemukakan Menkes Budi Gunadi Sadikin, akhir Januari 2026 lalu, di Indonesia memang belum ditemukan adanya kasus positif Virus Nipah," ucap Rany.

Meski belum ada kasus, Rany menegaskan kewaspadaan tidak boleh dikendurkan. Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk terus memperkuat sistem surveilans kesehatan sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

Menurutnya, penguatan surveilans diperlukan untuk memantau perkembangan penyakit menular secara global. Terlebih, Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang memiliki tingkat fatalitas tinggi meski jumlah kasusnya relatif terbatas.

Rany menyebut, kesiapan laboratorium dan alat screening menjadi kunci dalam upaya pencegahan. Dengan dukungan fasilitas yang memadai, potensi penularan dapat dideteksi lebih awal dan ditangani secara cepat.

Selain peran pemerintah, ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat. Warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala pernapasan yang tidak biasa atau berlangsung lama.

Menurut Rany, kewaspadaan bersama antara pemerintah dan masyarakat menjadi langkah paling efektif dalam menghadapi potensi ancaman Virus Nipah. Upaya pencegahan dinilai lebih penting dibandingkan penanganan ketika kasus sudah muncul.

"Tetapi, kita jangan sampai lengah," tuturnya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.