Berpotensi Melemah Lanjutan, 5 Februari 2026

Kamis, 05 Feb 2026, 08:45 WIB

JAKARTA – Volatilitas nilai tukar diperkirakan tetap tinggi karena pasar global masih berada dalam fase wait and see terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed, yang menjadi penentu utama arus modal internasional. Di saat yang sama, pelaku pasar juga mencermati respons kebijakan domestik dalam memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi, termasuk stabilitas fiskal dan efektivitas stimulus. 

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi me­lihat kombinasi ketidakpastian eksternal dan kebutuhan konsolidasi internal ini membuat pergerakan mata uang cenderung fluktuatif, terutama dalam jangka pendek. Ka­renanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Ka­mis (5/2), bergerak fluktuatif di kisaran 16.770 - 16.800 ru­piah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan di Jakarta, Rabu (4/2), bergerak melemah 23 poin atau 0,14 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.777 rupiah per dollar AS. Research and Deve­lopment Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan pelemahan ru­piah tertahan berkat stabilitas makro dan kehati-hatian in­vestor.

“Rupiah relatif tertahan oleh kombinasi faktor stabilitas makro masih solid dan kehati-hatian investor,” ujarnya di Jakarta, Rabu (4/2).

Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid, ditopang inflasi yang terjaga dalam target, cadangan devisa yang memadai, serta komitmen Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan moneter dan intervensi pasar.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.