Kemenkes Waspada Virus Nipah, Masyarakat Diimbau Hindari Konsumsi Nira Mentah

Senin, 02 Feb 2026, 16:10 WIB

JAKARTA - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Virus Nipah meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus konfirmasi pada manusia di Indonesia. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah antisipasi dini untuk menjaga keamanan kesehatan nasional.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang secara alami berinang pada kelelawar buah. Penularan dapat terjadi melalui hewan perantara seperti babi atau melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi oleh cairan tubuh hewan pembawa virus.

Ket. Foto: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Virus Nipah meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus konfirmasi pada manusia di Indonesia. — Sumber: Pexels

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes Murti Utami menegaskan posisi geografis Indonesia yang berdekatan dengan sejumlah negara yang pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Virus Nipah menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Menurutnya, kewaspadaan dini harus terus diperkuat agar potensi penularan dapat dicegah sejak awal.

Potensi risiko penularan di dalam negeri juga diperkuat oleh hasil penelitian yang menemukan adanya deteksi virus pada kelelawar buah jenis Pteropus sp. di beberapa wilayah Indonesia. Temuan tersebut menunjukkan keberadaan reservoir alami virus di lingkungan sekitar masyarakat.

Virus Nipah dinilai berbahaya karena memiliki manifestasi klinis yang beragam. Gejala dapat muncul mulai dari infeksi saluran pernapasan akut ringan hingga peradangan otak atau ensefalitis yang berisiko menyebabkan kematian. Selain penularan dari hewan ke manusia, virus ini juga dilaporkan dapat menyebar antarmanusia melalui kontak erat dengan penderita.

Sebagai langkah mitigasi, Kemenkes telah menginstruksikan seluruh jajaran dinas kesehatan di daerah untuk memperketat pemantauan terhadap tren penyakit dengan gejala menyerupai meningitis dan pneumonia. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan deteksi dini dan penanganan cepat jika ditemukan kasus mencurigakan.

Dari sisi pencegahan praktis, masyarakat diimbau lebih selektif dalam mengonsumsi hasil alam. Kemenkes secara khusus mengingatkan agar tidak meminum nira atau air aren langsung dari pohonnya karena berisiko terkontaminasi oleh air liur atau kotoran kelelawar pada malam hari.

Masyarakat disarankan memastikan nira dimasak hingga mendidih sebelum dikonsumsi. Selain itu, buah-buahan juga perlu dicuci bersih dan dikupas sebelum dimakan, serta segera dibuang jika ditemukan bekas gigitan hewan.

Langkah kebersihan pangan ini dinilai menjadi salah satu kunci utama dalam memutus potensi rantai penularan Virus Nipah di lingkungan masyarakat. Kemenkes menekankan pentingnya tetap tenang namun waspada agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan.

Peringatan kewaspadaan ini semakin relevan menyusul munculnya laporan kasus terbaru di India pada akhir Januari 2026. Dalam laporan tersebut, tenaga kesehatan di negara bagian West Bengal dilaporkan terpapar Virus Nipah saat menangani pasien.

Kejadian di tingkat global tersebut menjadi pengingat bahwa mobilitas manusia yang tinggi dapat membawa risiko penularan lintas negara. Pemerintah memastikan akan terus melakukan investigasi, surveilans, dan pemantauan ketat untuk mencegah masuknya Virus Nipah ke Indonesia.

Kemenkes juga mengajak masyarakat berperan aktif menjaga sanitasi pangan dan kebersihan lingkungan. Upaya kolektif antara pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi benteng utama dalam menjaga Indonesia tetap aman dari ancaman penyakit menular berbahaya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.