- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Sentil Inggris Soal ...
Trump Sentil Inggris Soal Urusan dengan Tiongkok, Starmer Tetap Bersikeras Ketemu Xi Jinping
Jumat, 30 Jan 2026, 18:30 WIBJAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan keras terkait langkah Inggris yang mempererat hubungan dengan Tiongkok. Pernyataan itu muncul saat Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sedang berada di Beijing untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Presiden Xi Jinping.
Trump menyebut kerja sama Inggris dengan Tiongkok sebagai langkah berisiko tinggi. Ia menyampaikan komentar tersebut kepada wartawan saat menghadiri pemutaran perdana film dokumenter tentang Ibu Negara Melania Trump.
"Yah, itu sangat berbahaya bagi mereka untuk melakukan itu," kata Trump ketika ditanya soal Inggris yang menjalin kerja sama bisnis dengan Tiongkok.
Pernyataan Trump langsung memantik respons dari Downing Street. Kantor Perdana Menteri Inggris menegaskan bahwa Gedung Putih telah mengetahui rencana perjalanan Starmer beserta tujuannya sejak awal.
Downing Street juga menyinggung agenda Trump sendiri yang dijadwalkan akan mengunjungi Tiongkok pada April mendatang. Hal itu dinilai menunjukkan adanya komunikasi terbuka antara kedua negara sekutu tersebut.
Kunjungan Starmer ke Tiongkok menjadi momen penting dalam diplomasi Inggris. Lawatan ini tercatat sebagai kunjungan perdana menteri Inggris pertama ke Tiongkok sejak 2018.
Langkah tersebut juga mengikuti tren sejumlah pemimpin Barat yang belakangan kembali membuka jalur komunikasi intensif dengan Beijing. Banyak pengamat melihat dinamika ini sebagai sinyal pergeseran strategi global di tengah ketidakpastian arah kebijakan Amerika Serikat.
Pada Kamis waktu setempat, Starmer bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping dan sejumlah pejabat tinggi Tiongkok. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menandatangani beberapa kesepakatan kerja sama lintas sektor.
Kesepakatan ini mencakup penguatan hubungan ekonomi dan peluang investasi bilateral. Pemerintah Inggris berharap kerja sama tersebut mampu mendongkrak performa bisnis nasional.
Isu serupa sebelumnya juga melibatkan Kanada. Perdana Menteri Kanada Mark Carney sempat mengunjungi Tiongkok pada pertengahan Januari dan menyepakati kerja sama di bidang perdagangan serta pariwisata.
Langkah Kanada tersebut memicu reaksi keras dari Trump. Presiden AS itu bahkan mengancam akan memberlakukan tarif impor hingga 100 persen terhadap produk Kanada jika Ottawa memperluas kesepakatan dengan Beijing.
Ancaman itu kemudian dibantah langsung oleh Carney. Ia menyebut pernyataan Trump sebagai bagian dari strategi negosiasi politik.
"Menurut saya, justru lebih berbahaya bagi Kanada untuk berbisnis dengan China. Kanada sedang tidak baik-baik saja. Mereka sangat buruk, dan Anda tidak bisa menganggap China sebagai solusinya," ujar Trump.
Sementara itu, Starmer melanjutkan agenda kunjungannya dengan bertolak ke Shanghai pada Jumat. Kota tersebut dipilih karena statusnya sebagai pusat keuangan terbesar di Tiongkok.
Kunjungan ke Shanghai difokuskan untuk membuka akses pasar baru bagi perusahaan-perusahaan Inggris. Pemerintah Inggris menargetkan peningkatan ekspor dan investasi di ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.
Dalam lawatan ini, Starmer turut membawa lebih dari 50 pemimpin bisnis Inggris. Rombongan tersebut berasal dari berbagai sektor strategis, termasuk teknologi, energi, manufaktur, dan jasa keuangan.
Starmer menilai pertemuannya dengan Presiden Xi berlangsung positif. Ia menyebut dialog yang terjalin berjalan intens dan produktif.
"Kami terlibat secara hangat dan benar-benar mencapai kemajuan nyata, karena Inggris memiliki banyak hal untuk ditawarkan," kata Starmer saat berada di Bank of China, Beijing.
Pemerintah Inggris melihat Tiongkok sebagai mitra ekonomi penting di tengah perlambatan global. London berharap kolaborasi ini mampu membuka peluang kerja baru serta memperkuat posisi Inggris di pasar Asia.
Di sisi lain, pernyataan Trump memperlihatkan masih adanya ketegangan geopolitik terkait pengaruh Tiongkok. Amerika Serikat terus mendorong sekutunya untuk berhati-hati dalam menjalin kerja sama strategis dengan Beijing.
Situasi ini menempatkan Inggris pada posisi diplomatik yang sensitif. Di satu sisi London ingin menjaga hubungan dekat dengan Washington, namun di sisi lain juga membutuhkan akses ekonomi ke pasar Tiongkok.
Pengamat menilai langkah Starmer menjadi ujian awal arah kebijakan luar negeri Inggris pasca pergantian kepemimpinan. Keputusan ini diprediksi akan memengaruhi peta hubungan Barat dengan Tiongkok dalam beberapa tahun ke depan.
- Donald Trump
- Tiongkok
- Xi Jinping
- inggris
- Presiden Tiongkok Xi Jinping
- Politik Global
- PM Inggris Keir Starmer
- Keir Starmer
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Trump akan Bicara dengan Pemimpin Taiwan Pasca Kunjungan ke Beijing
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Trump akan Tampil di Paspor Edisi Terbatas Ulang Tahun AS ke-250
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Trump dan Xi Jinping Gelar Pertemuan di Beijing
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Trump Minta Juru Runding AS Tidak Terburu-buru Capai Kesepakatan dengan Iran
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.