KKP Gaungkan Isu Laut Dunia, Ocean Impact Summit Bali Dibidik Global

Jumat, 30 Jan 2026, 21:45 WIB

JAKARTA – Ocean Impact Summit memiliki peran strategis sebagai ruang kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam merespons tantangan keberlanjutan laut yang semakin kompleks.

Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan investor untuk mendorong solusi nyata berbasis inovasi, pembiayaan berkelanjutan, serta kebijakan yang berdampak langsung bagi ekosistem laut.

Ket. Foto: Ilustrasi - Foto udara, nelayan mencari ikan di Perairan Selat Muna di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. — Sumber: ANTARA/Jojon

Di tengah ancaman perubahan iklim, pencemaran, dan eksploitasi berlebih, Ocean Impact Summit menjadi sarana penting untuk menyelaraskan kepentingan ekonomi biru dengan perlindungan lingkungan.

Lebih dari sekadar forum diskusi, summit ini berfungsi mempercepat implementasi aksi konkret agar pengelolaan sumber daya laut mampu mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan generasi mendatang.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong partisipasi dunia dalam pelaksanaan Ocean Impact Summit (OIS) 2026 yang akan digelar di Bali pada 8–9 Juni mendatang.

Melalui partisipasi aktif di dua forum internasional, yakni Bali Ocean Days dan pertemuan ke-30 Coastal States Alliance (CSA), KKP memperkenalkan OIS 2026 kepada ratusan peserta dari berbagai negara.

“Di balik persiapan acara, kami juga terus menggaungkan substansi pelaksanaan OIS 2026,” ujar Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan, Doni Ismanto Darwin, dalam siaran resmi KKP, Jumat (30/1).

“Semakin banyak pihak yang mengetahui, apalagi berpartisipasi, tentu akan banyak yang bisa kita hasilkan dari pelaksanaan OIS 2026,” kata dia menambahkan.

Doni memaparkan, promosi OIS 2026 dilakukan dengan menekankan relevansi tema besar Unlocking The Potential of the Blue Economy terhadap isu-isu yang dibahas di kedua forum.

Ia menjelaskan, Bali Ocean Days mengangkat topik pembangunan wilayah pesisir, konservasi terumbu karang, hingga persoalan sampah laut.

Sementara itu, CSA membahas keberlanjutan populasi tuna menjelang sidang Technical Committee on Allocation Criteria (TCAC) di Perth, Australia.

Menurut Doni, dukungan internasional terhadap OIS 2026 mulai terlihat. John Burton, pendiri The Sustainable Fisheries and Communities Trust (SFACT), menyatakan akan hadir di Bali Juni mendatang.

“Pelaksanaan OIS adalah sinyal kepemimpinan Indonesia di sektor kelautan dan perikanan. Saya baru tahu tentang OIS setelah melihat video presentasi di WEF lalu. Saya menyatakan saya akan datang,” ujar Burton.

OIS 2026 yang baru pertama kali digelar itu mendapat dukungan dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) dan OceanX, organisasi nirlaba yang fokus pada riset dan teknologi kelautan.

Pemerintah berharap forum ini menjadi wadah lahirnya inovasi pemanfaatan sumber daya laut berkelanjutan sesuai prinsip ekonomi biru, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, sekaligus menjaga kesehatan laut.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.