Menanti Rapat FOMC, 27 Januari 2026

Selasa, 27 Jan 2026, 08:25 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih ber­ada di bawah tekanan seiring meningkatnya kekhawatir­an terhadap prospek defisit anggaran yang kian melebar. Di sisi lain, sikap investor cenderung wait and see men­jelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC), mengingat arah kebijakan suku bunga The Fed akan sangat memengaruhi aliran modal global.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong melihat kombinasi faktor domestik dan eksternal ini mem­buat pergerakan rupiah berpotensi tetap volatil dalam jangka pendek. Dari dalam negeri, rupiah juga masih ter­bebani kekhawatiran defisit anggaran melewati 3 persen, sementara dari eksternal investor cenderung menanti ra­pat FOMC yang akan digelar pada 27 – 28 Januari 2026.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah ter­hadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antar­bank, Selasa (27/1), bergerak fluktuatif di kisaran 16.700 – 16.850 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan per­dagangan di Jakarta, Senin (26/1), bergerak menguat 38 poin atau 0,23 persen dari akhir pekan lalu menjadi 16.782 rupiah per dollar AS. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menganggap penguatan ini dipengaruhi respons posi­tif pasar terhadap komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah.

“Pasar mendukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen po­sitif, dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot,” katanya dalam keterangan ter­tulis di Jakarta.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.