BI Diminta Lebih Fokus Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Kamis, 22 Jan 2026, 01:45 WIB

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara semakin ekspansif, tetapi belum mendorong sisi produksi.

JAKARTA - Bank Indonesia diminta untuk lebih fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak terus melemah. Sebab, jika terus tertekan, depresiasi rupiah akan menghambat upaya Pemerintah memacu pertumbuhan ekonomi ke posisi 6 persen.

Ket. Foto: Bank Indonesia diminta untuk lebih fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak terus melemah. — Sumber: antara

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan, pertumbuhan ekonomi akan dipengaruhi pergerakan kurs rupiah. Begitu tren nilai tukar rupiah melemah, biaya bahan baku dan produksi naik.

Selain itu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga semakin ekspansif tetapi belum mendorong sisi produksi. Sebab, banyak pemborosan anggaran termasuk pembangunan food estate (lumbung pangan) dan program jumbo lainnya yang membuat ruang fiskal berkurang.

“Sifat program prioritas Pemerintah juga substitusi, mengganti petani dengan militer dalam konteks food estate atau mengganti pekerja kantin sekolah dengan Makan Bergizi Gratis (MBG). Karena terjadi efek pengganti maka daya dorong APBN ke ekonomi jadi berkurang. Celios memperkirakan ekonomi akan tumbuh 4,7-5 persen year on year,” ungkap Bhima.

Relatif sulitnya pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen juga karena kondisi geopolitik dan pelemahan konsumsi domestik. Harga pangan berisiko inflasi karena tarik menarik pasokan dengan MBG.

Program APBN pun nya tegas dia ambisius dengan defisit yang melebar tetapi belum targeted, belum fokus. “Jadi upaya mendorong pertumbuhan lebih tinggi harus ada kebijakan yang lebih efektif tanpa melebarkan belanja.

Misalnya, menjelang ramadhan pemerintah memangkas pajak pertambahan nilai (PPN) dari 11 menjadi 9 persen itu harus dilakukan. Langkah lainnya dengan mendorong insentif ke sisi hulu produksi. Selama ini fasilitas itu sudah ada tetapi menurut dia masih belum tepat sasaran, sehingga perlu dievaluasi.

Kenaikan Permintaan

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Rabu (21/1) memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026 meningkat di kisaran 4,9-5,7 persen, ditopang kenaikan permintaan (demand) domestik.

Hal itu sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah dan berlanjutnya dampak positif dari bauran kebijakan bank sentral untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Efektivitas berbagai program stimulus pemerintah pada tahun 2026 perlu diperkuat guna mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja,” kata Perry.

Menurut Perry, efektivitas berbagai program stimulus pemerintah pada tahun 2026 perlu diperkuat untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja.

Investasi juga diperkirakan lebih tinggi ditopang oleh berlanjutnya program prioritas pemerintah, termasuk hilirisasi sumber daya alam (SDA), sehingga diharapkan makin dapat meningkatkan produktivitas dan kapasitas perekonomian.

“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan,” kata Perry.

Adapun pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 diperkirakan lebih tinggi ditopang oleh kenaikan permintaan domestik sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan peningkatan stimulus fiskal.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tercatat di wilayah Bali-Nusa Tenggara (Balinusra), diikuti Jawa dan Kalimantan didorong kenaikan permintaan domestik.

“Pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2025 diperakirakan berada di kisaran 4,7-5,5 persen,” kata Perry.

Dari global, Perry menjelaskan bahwa perekonomian dunia masih dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang meningkat. Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diperkirakan sedikit lebih rendah menjadi sebesar 3,2 persen dibandingkan dengan capaian 2025 sebesar 3,3 persen.

Pertumbuhan yang lebih rendah tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan kerentanan rantai pasok global, meskipun prospek perekonomian AS membaik didorong investasi sektor teknologi termasuk artificial intelligence (AI) dan stimulus fiskal pengurangan pajak.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India pada 2026 diperkirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor di tengah investasi AI yang juga meningkat.

Dari pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) berkurang dan disertai masih tingginya yield UST (US Treasury/obligasi pemerintah AS) sejalan defisit fiskal AS yang masih besar.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Aloysius Gunadi Brata, menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 yang disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam kisaran 4,9–5,7 persen memuat pesan penting mengenai relasi kebijakan fiskal dan moneter.

Menurutnya, proyeksi tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan parkiraan pertumbuhan ekonomi 2025 dan secara eksplisit memberi apresiasi pada peran kebijakan pemerintah serta bauran kebijakan Bank Indonesia.

Aloysius menilai pernyataan Perry dapat dibaca sebagai sinyal kuat dukungan otoritas moneter terhadap keberlanjutan kebijakan fiskal pemerintah pada 2026. “Ini semacam sinyal bahwa otoritas moneter mendukung pemerintah untuk melanjutkan kebijakan fiskalnya, dan BI akan memperkuatnya dengan bauran kebijakan moneter,” ujar Aloysius.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.