Direvisi Naik Oleh IMF, RI Tetap Sulit Dongkrak Pertumbuhan Tinggi
Rabu, 21 Jan 2026, 01:10 WIBJAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027. Dalam World Economic Outlook (WEO) Update edisi Januari 2026, IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1 persen, sedikit lebih tinggi dari estimasi 2025 yang tumbuh 5 persen.
Proyeksi terbaru itu juga merevisi ke atas ramalan sebelumnya yang dituangkan dalam WEO edisi Oktober 2025. Proyeksi untuk 2026 lebih tinggi 0,2 persen dan untuk 2027 lebih tinggi 0,1 persen.
Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan IMF sebesar 5,1 persen pada tahun 2026 dan 2027 menunjukkan bahwa lembaga tersebut menilai perekonomian Indonesia belum kembali pada perekonomian sebelum Covid 19.
Faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia cukup mempengaruhi perekonomian Indonesia. Selain itu faktor internal seperti kemampuan fiskal mendongkrak pertumbuhan serta lambatnya mekanisme transmisi moneter ke pasar kredit serta faktor kehati -hatian pengusaha dan meningkatnya PHK (pemutusan hubungan kerja) menjadi penyebab kesulitan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
âKetidakpastian politik juga ikut andil dalam mengerem pertumbuhan,â kata Suhartoko.
Peneliti Ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet mengatakan, revisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh IMF menjadi 5,1 persen pada 2026â2027 menunjukkan bahwa fundamental ekonomi domestik masih dinilai cukup solid di tengah ketidakpastian global.
Kenaikan juga memberi sinyal kepercayaan terhadap konsumsi, investasi, serta stabilitas makro Indonesia, meskipun tantangannya tidak ringan.
âSituasi geopolitik yang memanas, fragmentasi perdagangan, fluktuasi harga energi, hingga arah kebijakan moneter negara maju berpotensi menekan arus modal dan ekspor,â kata Rendi.
Oleh sebab itu, capaian pertumbuhan tersebut bukan sekadar angka optimistis, melainkan juga ujian bagi pemerintah untuk menjaga reformasi struktural, memperkuat industri dalam negeri, serta meningkatkan daya saing.
Dengan kata lain, peluangnya terbuka, tetapi konsistensi kebijakan dan ketahanan ekonomi akan sangat menentukan apakah Indonesia mampu menjaga momentum di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.
Masih Berat
Pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan, kenaikan proyeksi IMF tersebut menunjukkan bahwa langkah ekonomi pemerintah sudah pada jalur yang benar namun mungkin masih berat menuju harapan pemerintah sebesar 6 persen.
âIni positif, berarti IMF menilai rencana pemerintah dan indikator-indikator yang ada sudah on the right track. Tapi mungkin masih berat kalau tahun ini ingin mencapai 6 persen. Namun dalam kondisi pelemahan daya beli seperti sekarang setidaknya yang bisa dilakukan pemerintah adalah menjagatingkat inflasi tetap stabil karena ini bisa bantu pertumbuhan ekonomi.
âArtinya harga barang dan jasa relatif stabil, sehingga masyarakat bisa lebih percaya diri buat belanja dan investasi, supaya bisa meningkatkan permintaan dan produksi,â pungkas.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Membangun Harapan Baru dari Akar Rumput
-
Indikator Makro yang Solid Tidak Otomatis Cerminkan Kesehatan Struktural Ekonomi
-
Kampung Nelayan: KKP Tak Mau Kecolongan! Program KNMP Kini Diawasi Berlapis
-
Penguatan Dollar AS Bakal Meningkatkan Biaya Pendanaan di Ekonomi Pasar Berkembang
-
Polda Metro Jaya Gelar Operasi Pekat Jaya 2026 Jelang Ramadan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.