Rekor Indeks Tertinggi Bukan Cermin Kekuatan Ekonomi Secara Umum
Selasa, 20 Jan 2026, 01:15 WIBPasar modal bergerak lebih cepat dibandingkan kemampuan ekonomi riil untuk mengejar ketertinggalan.
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan rekor tertinggi baru atau All Time High (ATH) pada perdagangan sesi keduaSenin (19/1). Indeks tercatat menguat 39,58 poin atau 0,44 persen ke level 9.114,99 pada perdagangan pukul 14.50 WIB.
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyampaikan apresiasi kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, seiring IHSG yang terus-menerus menyentuh level ATH di masa kepemimpinannya.
âTerima kasih, Pak Purbaya,â ujar Iman.
Sepanjang tahun 2025, IHSG mencetak rekor ATH sebanyak 24 kali dan terus berlanjut hingga awal tahun 2025, atau bertepatan dengan masa kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan.
Menkeu Purbaya sendiri optimistis IHSG dapat menyentuh level 10.000 pada tahun ini, dengan berbagai sentimen yang akan menopang penguatan pasar saham.
Purbaya mengatakan terdapat optimisme dari pelaku pasar bahwa perekonomian nasional akan membaik pada 2026, yang mana pertumbuhan 6 persen year on year (yoy) bukanlah angka yang mustahil dicapai.
âSaya pikir memang itu optimisme di pasar atau pelaku pasar bahwa kita akan membaik terus ke depan. Kalau saya lihat, fondasi ekonominya yang sudah membaik sekarang, tahun ini akan lebih baik lagi karena kebijakan kita dengan BEI sudah amat sinkron, harusnya ekonomi akan tumbuh lebih cepat, dan 6 (persen) bukan mustahil dicapai tahun ini,â kata Purbaya.
Lebih Cepat
Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, menilai penguatan IHSG dengan kembali mencatatkan rekor all time high (ATH) perlu dibaca secara hati-hati dan tidak disederhanakan sebagai cermin kekuatan ekonomi secara menyeluruh.
Kenaikan indeks saham jelasnya lebih banyak mencerminkan persepsi dan arus likuiditas pasar keuangan, bukan otomatis menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi riil di lapangan.
Reli IHSG saat ini jelasnya didorong oleh konsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang indeks. Kondisi tersebut membuat kenaikan IHSG bersifat sempit (narrow rally), sementara banyak saham lapis menengah dan kecil justru belum menunjukkan penguatan yang sejalan. âIndeks naik, tapi tidak semua pelaku pasar ikut merasakan manfaatnya,â ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa euforia terhadap ATH berpotensi menutupi persoalan struktural yang masih dihadapi perekonomian, seperti daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, ketimpangan sektor, serta tekanan biaya produksi di dunia usaha. Dalam konteks ini, Achmad menilai pasar modal bergerak lebih cepat dibandingkan kemampuan ekonomi riil untuk mengejar ketertinggalan.
Menurut Achmad, stabilitas kebijakan memang menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor, namun stabilitas saja tidak cukup untuk menopang pertumbuhan jangka panjang. Tanpa dorongan produktivitas, ekspansi sektor riil, dan penciptaan nilai tambah yang nyata, kenaikan IHSG berisiko rapuh jika sentimen global atau arus modal mengalami pembalikan.
âRekor indeks seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan perayaan berlebihan,â kata Achmad. Ia menegaskan bahwa tantangan utama pemerintah dan otoritas ekonomi saat ini adalah memastikan bahwa optimisme pasar keuangan dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.
Lebih Spekulatif
Pada kesempatan berbeda, Manajer Riset Seknas Fitra Badiul Hadi menerangkan, kenaikan IHSG yang mencapai rekor tertinggi baru ATH memang mencerminkan sentimen positif di pasar modal Indonesia. Namun, jika dilihat lebih dalam, pencapaian tersebut tidak selalu mencerminkan kesehatan ekonomi secara menyeluruh.
âKenaikan indeks saham bisa dipengaruhi oleh likuiditas pasar, aliran modal asing, dan ekspektasi investor, yang terkadang lebih bersifat spekulatif ketimbang mencerminkan fundamental ekonomi domestik,â kata Badiul.
Kondisi riil saat ini menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Rupiah mengalami pelemahan di level sekitar 16.922 rupiah per dollar AS, yang menandakan tekanan pada nilai tukar. Pertumbuhan ekonomi tercatat sekitar 5 persen, relatif stabil, tetapi masih menghadapi tantangan dari sisi pengangguran yang tinggi dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
âHal ini menunjukkan bahwa meski IHSG menguat, sektor riil terutama konsumsi dan tenaga kerja belum sepenuhnya mencerminkan optimisme pasar saham,âungkap Badiul.
Kinerja indeks saham merupakan hasil interaksi kompleks antara investor, emiten, dan faktor global, sehingga menautkan pencapaian ATH secara langsung kepada kebijakan satu individu dalam hal ini Menkeu berpotensi menyederhanakan dinamika pasar yang sebenarnya multifaktorial.
âSaya melihat, kenaikan IHSG memang menjadi berita positif bagi investor dan citra pasar modal Indonesia, tetapi perlu diimbangi dengan pemahaman fundamental ekonomi yang lebih luas, termasuk kondisi nilai tukar, pengangguran, daya beli masyarakat, dan stabilitas sektor riil,â katanya. Tanpa konteks itu, optimisme pasar saham bisa memberikan sinyal yang menyesatkan mengenai kesehatan ekonomi secara keseluruhan,âungkap Badiul.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Libur Paskah Jumat Ini Ragunan Disebu Wisatawan, Pengelola Imbau Pengunjung Waspada Cuaca Ekstrem
-
Flairene Candrea Cetak Rekor Renang Nasional
-
Permohonan yang Aneh, Hakim Arsul Heran Pemohon Minta MK Diskualifikasi Calon Tak Menang
-
OJK Ungkap Mayoritas Korban Penipuan Baru Lapor Setelah 12 Jam, Dana Sudah Raib!
-
Kolaborasi Manusia dan Teknologi AI, Mempermudah Kinerja Keuangan di Masa Depan
-
MPR Harap Masyarakat Terus Tingkatkan Pengetahuan untuk Hadapi Perubahan Iklim
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.