Siklus Air Global Makin Tidak Stabil, Frekuensi Bencana Alam Meningkat Tajam

Rabu, 14 Jan 2026, 15:52 WIB

CANBERRA - Berbagai perubahan yang sedang terjadi dalam siklus air global memperparah banjir, kekeringan, dan panas ekstrem pada 2025, menyebabkan ribuan kematian dan kerugian ratusan miliar dolar, menurut satu laporan baru pada Rabu (14/1).

Laporan Global Water Monitor 2025 yang dipimpin oleh Universitas Nasional Australia (ANU) menunjukkan pemanasan global yang terus berlanjut mengubah cara air bergerak, disimpan, dan bersirkulasi di antara atmosfer, daratan, dan lautan, dengan konsekuensi signifikan bagi masyarakat dan ekosistem, papar sebuah rilis pers ANU.

Laporan itu menemukan bahwa hampir 5.000 orang tewas dan sekitar 8 juta orang mengungsi akibat bencana terkait air pada 2025, dengan kerugian ekonomi melampaui 360 miliar dolar AS.

Kerugian tersebut berasal dari banjir, siklon tropis, kekeringan, dan kebakaran hutan, yang saling berkaitan dan menimbulkan dampak berantai melalui sistem air, pangan, dan energi, kata laporan tersebut.

"Perubahan pada siklus air memengaruhi waktu dan lokasi terjadinya bencana," kata Profesor Albert van Dijk dari Fakultas Lingkungan dan Masyarakat Fenner di Universitas Nasional Australia.

"Pada 2025, banjir, kekeringan, dan bahaya terkait panas berulang kali melanda kawasan yang sama secara beruntun, memperkuat dampak gabungannya," ujar van Dijk.

Ket. Foto: — Sumber: AFP/ABDEL MAJID BZIOUAT

Dia menambahkan bahwa perubahan cepat antara ekstrem basah dan kering, atau disebut 'climate whiplash', membebani sistem air, ekosistem, dan infrastruktur, memperburuk dampak keseluruhan dari peristiwa terkait iklim.

"Laporan tersebut mendokumentasikan bagaimana perubahan dalam kelembapan atmosfer, kondisi tanah dan air tanah, aliran sungai, dan luas permukaan air berkaitan erat dengan banyak bencana iklim paling merusak pada tahun lalu," ujarnya.

Laporan itu mengaitkan bencana-bencana pada 2025, mulai dari banjir danau glasial di Himalaya hingga siklon ekuator, dengan kondisi panas yang memecahkan rekor. Eropa mencatatkan kasus-kasus kematian akibat panas dan kebakaran hutan, sementara Asia Selatan dan Tenggara menghadapi banjir monsun yang luas.

Para peneliti memperingatkan meningkatnya risiko kekeringan pada 2026 di berbagai kawasan termasuk Mediterania, Tanduk Afrika, Brasil, dan Asia Tengah, dengan potensi banjir yang lebih tinggi di Sahel, Afrika Selatan, Australia Utara, dan sebagian besar Asia. Ant/Xinhua

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

Berita Terbaru

Tepis Klaim Trump, Iran Tegaskan Hormuz Tak Bisa Direbut Hanya Lewat Cuitan atau Pidato Kampanye

Gedung Sekolah Rakyat Jepara Selesai Dibangun, Para Siswa Siap Ikuti MPLS

Jelang HUT ke-81 RI, Mensesneg Sebut Persiapan Upacara Detik-detik Proklamasi di Istana Sudah 99 Persen

Libur Panjang HUT Ke-81 RI, Wisatawan Padati Kawah Sikidang Dieng

Pascagempa NTT, PLN: 429 Gardu Listrik Sudah Pulih dan Kembali Beroperasi

Gempa M 7,7 Guncang NTT, Kemkomdigi Pantau Pemulihan Layanan Seluler

Trump Segera Deklarasikan Selat Hormuz sebagai "Wilayah" AS

Wapres Gibran Sampaikan Duka atas Bencana Gempa M7,7 di NTT, Pastikan Penanganan Maksimal

TNI-Polri dan Pemprov DKI Gelar Aksi Bersih Sungai dan Bantaran di 11 Lokasi

Pertamina Turunkan Harga LPG Bright Gas 5,5 Kg dan 12 Kg Mulai Hari Ini

Semarak HUT ke-81 RI, SariWangi Hadirkan Pesta Rakyat dan Lomba Gapura di Berbagai Daerah

Gempa dengan Magnitudo 7,7 Picu 111 Gempa Susulan! Ini Imbauan Terbaru BMKG

Masa Depan 'X-Men': Marvel Ungkap Deretan Bintang Para Mutan Profesor Xavier

Pilihan Pelancong Dunia, Vietjet Dinobatkan sebagai Maskapai dengan Seragam Awak Kabin Terbaik

Kekeringan Melanda Natuna, Polres Salurkan 8.000 Liter Air Bersih untuk Warga dan Sekolah.

Jembatan Garuda di Tanah Laut Resmi Dimanfaatkan, Warga Kini Lebih Mudah Beraktivitas.

Kampanye “Berani Bicara Berat” Tegaskan Obesitas Sebagai Penyakit Kronis

HUT ke-81 RI, Dedi Mulyadi Pastikan Upacara di Gedung Sate Sekaligus Buka Hasil Revitalisasi.

Sikap Siap Hormat! Prajurit Marinir Kibarkan Merah Putih di Puncak Menara Telkomsel 74 Meter.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf Ajak Warga Rawat Perdamaian dengan Semangat Persaudaraan.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.