Trump: Zelenskyy Tak Pegang Kartu, Hanya Andalkan AS

Selasa, 13 Jan 2026, 04:05 WIB

Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tidak memiliki "kartu" dan satu-satunya dukungan yang dimilikinya adalah Trump sendiri.

"Ia [Zelenskyy] tak punya kartu. Sejak hari pertama ia tidak punya kartu. Ia hanya punya satu hal, yaitu Donald Trump," kata Trump dalam wawancara dengan The New York Times (NYT), seperti dikutip RIA Novosti pada Senin (12/1).

Ket. Foto: Presiden AS Donald Trump (kiri) berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Basilika Santo Petrus, Vatikan (26/4/2025). — Sumber: Antara

Trump mengatakan kalau dirinya tidak turun tangan, situasi di Ukraina akan berubah menjadi bencana total. Hal itu disadari Zelenskyy dan para pemimpin Eropa, katanya.

Lagi-lagi Trump mengatakan bahwa tanpa perannya, Rusia kemungkinan sudah menguasai seluruh wilayah Ukraina.

Ia menambahkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin sebenarnya ingin mencapai kesepakatan, meski belum ada tenggat waktu yang jelas untuk hal itu.

"Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa," kata Trump, seperti dikutip NYT.

Rusia telah melakukan operasi militer di Ukraina sejak 24 Februari 2022. Putin mengatakan operasi itu bertujuan "melindungi orang-orang yang menjadi sasaran genosida oleh rezim Kiev."

Putin menyatakan tujuan akhir operasi tersebut adalah membebaskan sepenuhnya wilayah Donbas dan menciptakan kondisi yang menjamin keamanan Rusia, termasuk demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina.

Rudal Pertahanan Udara

Sebelumnya, Zelenskyy pada Minggu (11/1), menuntut agar Eropa menyerahkan cadangan rudal pertahanan udara mereka kepada negaranya.

"Prioritas utamanya rudal pertahanan udara… kontribusi baru para mitra untuk inisiatif PURL [Daftar Prioritas Kebutuhan Ukraina] yang diperlukan, serta pengiriman dari persediaan di Eropa: rudal-rudal itu ada di gudang, dan kami tahu semua itu," kata Zelenskyy dalam pesan video yang dipublikasikan di akun Telegram-nya.

Rusia berulang kali menyatakan bahwa pasokan senjata Barat ke Ukraina menghambat penyelesaian konflik militer dan menjadikan negara-negara NATO sebagai pihak yang terlibat dalam krisis tersebut.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov telah memperingatkan bahwa setiap kargo yang berisi senjata untuk Ukraina akan menjadi sasaran yang sah bagi militer Rusia.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.