Kanada Dorong Pemberdayaan Wirausaha Perempuan Indonesia Pasca ICA-CEPA
Senin, 12 Jan 2026, 19:22 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Antara
Jakarta - Duta Besar Kanada untuk Indonesia Jess Dutton mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya yang ditopang oleh pelaku usaha perempuan, menjadi salah satu fokus Kanada setelah Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Kanada (ICA-CEPA) ditandatangani.
Pernyataan itu disampaikan Dutton usai peluncuran program Impact Investment Readiness in Indonesia (IIRI) di Jakarta, Senin (12/1). Program tersebut bertujuan memperkuat perusahaan yang berfokus pada perempuan melalui pelatihan bisnis dan keuangan serta dukungan kesiapan investasi.
"Mendukung wirausaha perempuan tidak hanya mendorong pemberdayaan ekonomi, tetapi juga pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan, terutama setelah penandatanganan perjanjian perdagangan bebas," kata Dutton.
Ia mengatakan Kanada mendukung peluncuran program pendanaan bagi wirausaha perempuan Indonesia karena menilai keterlibatan aktif perempuan dalam perekonomian dapat memaksimalkan potensi ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Menurut Dutton, seperti Kanada, pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mencakup sekitar 99 persen badan usaha terdaftar. Namun, UMKM masih menghadapi tantangan besar dalam mengakses permodalan, terutama yang dipimpin perempuan.
Untuk itu, Kanada mendukung program IIRI guna memperkuat UMKM perempuan, khususnya di wilayah terpencil dan kurang berkembang, dengan membantu akses permodalan dan membangun usaha berkelanjutan.
"Sasaran program ini mencakup wilayah seperti Nusa Tenggara dan Kalimantan, serta daerah lain di luar Jawa. Program ini juga memiliki komponen lingkungan dan keberlanjutan yang kuat, termasuk pengelolaan plastik dan mikroplastik," ujar Dutton.
IIRI merupakan program kolaborasi antara Global Affairs Canada (GAC) dan platform investasi global Impact Investment Exchange (IIX), dengan target pendanaan mencapai 27 juta dolar AS (sekitar Rp455 miliar) dari sektor swasta.
ICA-CEPA ditandatangani oleh Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dan Menteri Perdagangan Kanada Maninder Sidhu di Ottawa pada 24 September 2025, yang disaksikan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Perjanjian tersebut menjadi tonggak penting hubungan ekonomi kedua negara karena memberikan kepastian hukum dan memperluas akses pasar. Dalam perjanjian itu, Kanada berkomitmen menghapus 90,5 persen tarif impor produk Indonesia, sementara Indonesia meliberalisasi 85,8 persen pos tarif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!