Sorak Diaspora Venezuela Pecah di Chili, Isu Nicolas Maduro Picu Harapan Pulang Kampung

Minggu, 11 Jan 2026, 18:35 WIB

JAKARTA - Suasana dini hari di Santiago, ibu kota Chili, mendadak riuh oleh sorak sorai yang bergema di antara gedung-gedung tinggi kota. Kabar tentang operasi Amerika Serikat yang disebut-sebut menargetkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro cepat menyebar dan memicu luapan emosi diaspora Venezuela.

Lebih dari seribu orang berkumpul di Parque Almagro, saling berpelukan, bernyanyi, menangis, dan merayakan harapan baru. Bagi banyak orang, momen itu terasa seperti secercah cahaya setelah bertahun-tahun hidup jauh dari tanah air.

Ket. Foto: Warga Venezuela yang tinggal di Chili merayakan kemenangan di Santiago pada 3 Januari 2026, setelah pasukan AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro setelah melancarkan "serangan skala besar" terhadap Venezuela. — Sumber: npr

"Saya berada di taman bersama mereka sepanjang hari," kata Mary Montesinos, perwakilan partai oposisi Venezuela Voluntad Popular di Chili.

Ia menyebut percakapan yang beredar dipenuhi optimisme tentang kepulangan dan berakhirnya rezim.

"Topik pembicaraan saat itu adalah kita semua akan pulang, rezim akan jatuh dan kita akan mendapatkan kembali demokrasi kita," ujarnya.

Di sisi lain, ia menegaskan euforia perlu dibarengi kewaspadaan karena perubahan tidak terjadi dalam semalam.

"Mereka telah menangkap Maduro, tetapi rezimnya belum runtuh," katanya.

Menurut Montesinos, sistem kekuasaan yang dibangun selama 25 tahun tidak akan roboh hanya oleh satu peristiwa.

Di tengah krisis pengungsi terbesar dalam sejarah Amerika Latin, Badan Pengungsi PBB memperkirakan sekitar 23 persen warga Venezuela telah meninggalkan negaranya. Hingga akhir tahun lalu, sekitar 2.000 orang masih meninggalkan Venezuela setiap hari akibat tekanan ekonomi dan politik.

Chili menjadi salah satu tujuan utama gelombang migrasi tersebut. Montesinos sendiri tiba di negara itu pada 2003, jauh sebelum diaspora Venezuela berkembang sebesar sekarang.

Ia mengenang masa ketika pertemuan komunitas Venezuela masih kecil dan sering dihadiri warga Chili yang pernah besar di Venezuela. Saat itu, masakan khas Venezuela dibuat dari bahan pengganti karena sulit ditemukan.

Kini, identitas Venezuela semakin kasat mata di Chili. Queso llanero, tepung jagung khas Venezuela, arepas, hingga tequeños mudah ditemukan dari kota gurun hingga Punta Arenas di ujung selatan Chili.

Gelombang migrasi datang bertahap, banyak yang masuk melalui negara-negara Amerika Latin lain untuk mencari kerja. Pada masa pandemi, penutupan perbatasan membuat sebagian migran masuk secara ilegal dengan berjalan kaki melintasi gurun.

Sensus Chili 2024 mencatat warga Venezuela sebagai komunitas asing terbesar, dengan jumlah sekitar 669.000 orang dari total 18,5 juta penduduk. Angka ini jauh melampaui diaspora Peru yang berjumlah sekitar 233.000 orang.

Mayoritas warga Venezuela di Chili berusia muda, dengan hanya lima persen berusia di atas 45 tahun. Namun kehadiran mereka juga memicu resistensi sosial dan politik.

"Ketika berita kejahatan muncul, kewarganegaraan pelaku sering disebut jika pelakunya orang asing," kata Montesinos.

Presiden terpilih Chili dari sayap kanan, José Antonio Kast, memanfaatkan isu migrasi dalam kampanye Desember lalu. Ia mengaitkan migrasi ilegal dengan rasa tidak aman publik dan ancaman kejahatan terorganisir.

Diperkirakan sekitar 334.000 warga Venezuela tinggal secara ilegal di Chili. Kast mengusulkan kebijakan keras, mulai dari fasilitas penahanan hingga deportasi agresif.

Kast menyambut intervensi AS terhadap Venezuela sebagai kabar baik. Sementara mantan Presiden Gabriel Boric memperingatkan, Hari ini Venezuela, besok bisa jadi negara lain mana pun.

Roberto Becerra, aktivis oposisi yang tiba di Chili pada 2017, mengatakan diaspora berperan menjaga isu Venezuela tetap terlihat. Ia menyebut komunitas luar negeri menjadi suara bagi mereka yang dibungkam di dalam negeri.

"Kami adalah suara bagi mereka yang tidak bisa bersuara," katanya.

Di tengah ketidakpastian, banyak diaspora tetap menyimpan mimpi kembali ke Venezuela. Montesinos mengatakan ia siap pulang jika ada kesempatan membantu membangun kembali negaranya.

  • Chili
  • Nicolas Maduro
  • Venezuela
  • Konflik AS-Venezuela
  • Krisis Politik Venezuela
  • Serangan AS ke Venezuela

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.