Eskalasi Geopolitik Persempit Ruang Tumbuh Negara Berkembang

Jumat, 09 Jan 2026, 00:00 WIB

Gejolak harga minyak mentag dunia sebagai imbas konflik AS-Venezuela dan di kawasan Timur Tengah dapat memperkuat dollar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah

JAKARTA – Meningkatnya eskalasi geopolitik global kian membatasi ruang gerak perdagangan dan investasi di negara berkembang, termasuk Indonesia, seiring meningkatnya ketidakpastian dan fragmentasi ekonomi dunia. Ketegangan yang meluas di antara sejumlah negara besar, terutama yang memiliki keterkaitan aliansi dengan pihak-pihak berkonflik, berpotensi memperdalam krisis melalui gangguan rantai pasok, volatilitas pasar keuangan, serta menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan di kawasan berkembang.

Ket. Foto: Eskalasi Geopolitik Rugikan Negara Berkembang — Sumber: istimewa

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, memperingatkan ketidakpastian politik di Amerika Latin, imbas dari konflik Amerika Serikat (AS) dan Veneuela, dapat menghambat upaya Indonesia memperluas jaringan ekonomi internasionalnya. Dalam beberapa tahun terakhir, lanjutnya, Indonesia mulai memandang Amerika Latin sebagai pasar strategis.

“Karakteristik demografis, potensi konsumsi, dan struktur pasar kawasan ini dianggap mirip dengan Asia Tenggara. Hal ini menjadikan Amerika Latin sebagai target ekspansi baru bagi bisnis nasional, baik di sektor swasta maupun BUMN (Badan Usaha Milik Negara),” jelas Esther pada Koran Jakarta, Kamis (8/1).

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) itu menambahkan Indonesia memandang Amerika Latin sebagai pasar masa depan. Namun, tantangan utamanya adalah stabilitas politik di kawasan tersebut.

Ketika Indonesia ingin meningkatkan volume perdagangan dan investasi di kawasan ini, konflik seperti ini menimbulkan gangguan serius. "Upaya signifikan yang telah dilakukan mungkin akan terhambat oleh jaminan keberlanjutan investasi jangka panjang," jelas Esther.

Selain itu, konflik geopolitik global berpotensi memicu eskalasi luas yang tidak diharapkan dan menimbulkan efek penularan ke Indonesia, terutama melalui ketergantungan energi. Gejolak harga minyak dapat memperkuat dollar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Ke depan, Indonesia harus mengatisipasi ini jika terjadi volatilitas harga minyak yang berdampak pada penguatan dollar AS dan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS," ungkap Esther.

Berbagai kawasan dunia masih dibayangi ketegangan geopolitik, mulai dari konflik Arab Saudi dengan kelompok separatis Yaman, gejolak domestik di Iran, hingga perang Rusia–Ukraina yang belum mereda. Di saat yang sama, peningkatan aktivitas militer Tiongkok di sekitar Taiwan menambah risiko eskalasi global dengan potensi keterlibatan Amerika Serikat.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menilai ketegangan AS–Venezuela berakar pada kepentingan sumber daya alam, khususnya minyak, yang tercermin dari pernyataan politik Presiden AS Donald Trump dan rencana masuknya perusahaan minyak AS ke Venezuela. "Kita harus jujur, minyak itu bukan hanya komoditas. Minyak adalah tombol pengaruh. Siapa mengendalikan produksi, ekspor, dan infrastruktur, dia punya daya tawar," ujar Achmad Nur.

Imbas Minim

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan konflik AS dan Venezuela tak berdampak terhadap pasokan minyak mentah maupun bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Pasalnya, Indonesia tak mengimpor minyak dari Venezuela.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, hingga kini pemerintah belum melihat adanya potensi gangguan langsung terhadap kebutuhan BBM dalam negeri imbas konflik tersebut. "Kita sumber crude-nya (minyak mentah) itu bukan dari sana. Jadi dari wilayah lain. Jadi masih stabil," ucap Laode.

  • Eskalasi Geopolitik

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.