Prabowo Wanti-wanti Ketergantungan Impor
Rabu, 07 Jan 2026, 01:00 WIBJakarta - Presiden Prabowo Subianto mengingatkan bahaya ketergantungan impor pangan di tengah konflik global yang terus bergejolak. Peringatan itu disampaikan dalam Retret Jilid II di Hambalang, Bogor, Selasa (6/1).
 Seperti dikutip dari Antara, Prabowo mengatakan pasokan pangan domestik dapat ikut terancam apabila Indonesia terlalu bergantung pada impor dari negara-negara yang tengah dilanda tensi geopolitik. âSekarang, Thailand dan Kamboja perang terus. Setelah perang, negosiasi, gencatan senjata, damai, kemudian meletus lagi.
Dalam keadaan seperti itu, bayangkan, amankah kita tergantung impor dari negara yang konflik?â katanya dalam Taklimat Awal Tahun. Pada tahun-tahun sebelumnya, kata Presiden, Indonesia kerap mengimpor beras dari kedua negara tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, konflik berkepanjangan di antara Thailand dan Kamboja berpotensi mengganggu rantai pasok dan suplai beras apabila ketergantungan impor terus berlanjut.
Selain itu, Presiden Prabowo juga mengingatkan pengalaman pahit pada masa pandemi Covid-19, ketika sejumlah negara pengekspor pangan menutup keran ekspornya demi mengamankan kebutuhan domestik masingmasing. Kondisi tersebut membuat banyak negara, termasuk Indonesia, kesulitan mengimpor pangan meski memiliki kemampuan finansial.
Cadangan Beras
Lebih lanjut, Prabowo menyebutkan cadangan beras nasional yang dikelola oleh Perum Bulog saat ini mencapai 3 juta ton, atau melampaui sejarah saat Indonesia mencapai swasembada pangan di era Presiden Ke-2 RI Soeharto.
 âSaya juga cukup merasa besar hati, bangga bahwa hari ini cadangan beras kita di gudang- gudang pemerintah Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah berdirinya Republik Indonesia, pernah di pemerintahan Presiden Soeharto,â kata Prabowo. Prabowo menjelaskan bahwa dirinya menargetkan menteri bidang pangan Kabinet Merah Putih untuk mencapai swasembada pangan dalam kurun waktu empat tahun.
 Sementara itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengungkapkan tiga indikator yang membuat Indonesia meraih swasembada beras dengan stok tertinggi sepanjang sejarah. Ketut menyebutkan tiga indikator tersebut pertama Indonesia tidak melakukan importasi beras di tahun 2025; kedua, produksi jauh melebihi dari pada konsumsinya; dan ketiga, stok Bulog relatif tinggi, lebih dari 3 juta ton di akhir tahun. âArtinya tiga sisi ini yang menunjukkan kita bisa menyatakan bahwa posisi kita swasembada,â kata Ketut dikonfirmasi di Jakarta.
Menurut Ketut, hal itu juga berdasarkan ketentuan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO), yang mana menyatakan apabila suatu negara tetap melakukan impor namun di bawah dari 10 persen dari kebutuhan maka, bangsa itu tetap dapat dikatakan swasembada. âApalagi sekarang secara tegas Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Bapak Kepala Bapanas (Andi Amran Sulaiman) jelas mengatakan tidak ada impor beras konsumsi.
 Jadi tentu dengan ini, kalau boleh dikatakan ini arahnya sudah swasembada,â tutur Ketut. Menurut dia, visi swasembada pangan yang diusung Presiden telah mulai terwujud dalam tahun pertama pemerintahannya. Kebutuhan konsumsi beras sebagai pangan pokok strategis masyarakat Indonesia sudah mampu dipenuhi dari pasokan hasil kerja keras petani Indonesia sendiri. Tak ada impor sepanjang 2025.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
5 Rekomendasi Acara untuk Mengisi Libur Akhir Pekan di Jakarta
-
DPR Harap Sumpah Pemuda Momen untuk Tata Ulang Kebijakan Digital
-
Jika Andalkan Bansos dan Stimulus, Ekonomi Sulit Tumbuh 8%
-
Sejumlah Negara Eropa Kehilangan Status Bebas Campak
-
Dinsos DKI Jakarta: Bansos PKD Periode November 2025 Sudah Cair
-
Perubahan Iklim Dorong Teritip Invasif ke Arktik
-
Petugas Operator Kontrol Air Mancur Patung Kuda Ditemukan Tewas
Satlap Tri Cakti dan Satgas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Bijih Timah Ilegal Senilai Rp1,8 Miliar.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.