Kemenkeu: Fondasi Ekonomi 2025 Kokoh, Tatap 2026 Lebih Percaya Diri

Selasa, 06 Jan 2026, 18:20 WIB

JAKARTA – Kementerian Keuangan menyatakan sejumlah instrumen ekonomi Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja solid, mencerminkan ketahanan fundamental ekonomi di tengah tekanan global.

Stabilitas fiskal, penerimaan negara yang terjaga, serta pengelolaan belanja yang relatif efektif menjadi modal penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada 2026.

Ket. Foto: Ilustrasi - Kota Jakarta. — Sumber: Antara.

Capaian tersebut memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga momentum pemulihan sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi nasional ke depan.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu menjelaskan, tahun 2025 ditutup dengan aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.

“Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026,” kata Febrio dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (6/1).

Aktivitas manufaktur mencetak indeks PMI Manufaktur Indonesia pada level 51,2 pada Desember 2025, melanjutkan tren ekspansif selama lima bulan berturut-turut.

Kinerja positif ini didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku.

Optimisme pelaku usaha juga menguat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan keyakinan terhadap prospek sektor manufaktur ke depan.

Dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia secara umum juga berada di zona ekspansif yang memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.

Dari sisi neraca perdagangan, tren surplus masih berlanjut dengan nilai terakhir 2,66 miliar dolar AS pada November 2025.

Secara kumulatif Januari-November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar 38,54 miliar dolar AS, naik 9,30 miliar dolar AS (cumulative-to-cumulative/ctc).

“Ke depan, dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama akan terus diperkuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika global,” ujar Febrio.

Sementara tingkat inflasi sepanjang 2025 terkendali sebesar 2,92 persen (year-on-year/yoy).

Gangguan cuaca dan kendala distribusi mendorong naiknya inflasi harga bergejolak (volatile food) hingga mencapai 6,21 persen (yoy), dipengaruhi oleh komoditas aneka cabai, beras, dan ikan segar.

Inflasi harga diatur pemerintah tercatat sedikit meningkat menjadi 1,93 persen (yoy) yang didorong oleh kenaikan harga bensin non-subsidi dan tarif transportasi di periode Natal tahun baru.

Sementara itu, inflasi inti (core inflation) tercatat stabil pada level 2,38 persen (yoy) karena naiknya harga emas perhiasan.

Berbagai indikator ekonomi domestik juga menunjukkan perkembangan positif di akhir tahun 2025. Hingga November, Indeks Keyakinan Konsumen menguat ke level 124, sementara Indeks Penjualan Riil tumbuh 5,94 persen (yoy) didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat.

Penguatan aktivitas ekonomi juga tercermin dari meningkatnya penjualan listrik sektor bisnis sebesar 6,2 persen (yoy), dengan penjualan listrik rumah tangga dan industri yang tumbuh stabil.

“Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal diarahkan mendukung program pembangunan nasional guna memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutur Febrio.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.