Rupiah Masih Tertekan, 30 Desember 2025

Selasa, 30 Des 2025, 08:20 WIB

JAKARTA – Rupiah diperkirakan masih bergerak terte­kan menjelang penutupan akhir tahun, seiring dominasi sentimen eksternal dalam pembentukan arah pasar. Keti­dakpastian geopolitik global meningkatkan sikap hati-hati investor dan memperkuat permintaan terhadap aset aman, sehingga membatasi ruang penguatan rupiah meski faktor domestik relatif stabil.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi melihat rupiah masih dipengaruhi tensi geopolitik di Amerika Latin, yak­ni konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Ka­renanya, dia memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Selasa (29/12), bergerak fluktuatif di kisaran 16.780 - 16.820 ru­piah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, Se­nin (29/12) sore, ditutup melemah 43 poin atau sekitar 0,26 persen dari Rabu (24/12), menjadi 16.788 rupiah per dol­lar AS. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong di Jakarta mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen domestik dan regional, serta faktor sentimen berasal dari ekspektasi pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan BI dalam waktu ke depan.

“Rupiah melemah terhadap dollar AS terbebani oleh prospek pemangkasan suku bunga BI dan kebijakan eks­pansif pemerintah,” kata dia.

Selain faktor domestik, tekanan juga datang dari kawas­an regional. Menurut Lukman, rupiah ikut terseret koreksi tajam yang terjadi pada mata uang Asia lainnya, khusus­nya ringgit Malaysia dan baht Thailand, yang sama-sama mengalami pelemahan signifikan terhadap dollar AS.

Dia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila tidak ada langkah stabilisasi dari bank sentral. “Rupiah tentunya masih akan terus ter­tekan dan melemah apabila tidak diintervensi BI,” katanya.

Dari sisi sentimen global, Lukman menilai pekan ini re­latif minim rilis data ekonomi penting. “Masih belum ada data ekonomi penting sepekan ini, investor hanya perlu mewaspadai sentimen di pasar ekuitas dan tensi geopolitik di laut Karibia, dan simulasi perang Tiongkok di laut Tiong­kok Selatan,” ujarnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.