Pakar BRIN: Berdasarkan Parameter Angin, Ada Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem di Sumatera
Selasa, 30 Des 2025, 18:38 WIBJAKARTA - Pakar klimatologi dan perubahan iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Dr. Erma Yulihastin mengingatkan pentingnya aksi mitigasi di wilayah Sumatera mengingat terdapat potensi kenaikan kejadian angin dan hujan ekstrem.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Prof. Dr. Erma Yulihastin dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta, Selasa (30/12), mengatakan bahwa pihaknya melihat berdasarkan parameter angin dan hujan ekstrem sebagai indikasi cuaca ekstrem yang merupakan bagian dari krisis iklim akan berdampak signifikan di wilayah Sumatera.
"Kita lihat bahwa ternyata peringkat yang menduduki urutan pertama bahwa perubahan iklim ini akan sangat mengancam Sumatera, dalam konteks angin ekstremnya itu akan meningkat signifikan sampai 2040, itu selama Desember, Januari, Februari. Itu ternyata juaranya adalah Sumatera, nomor 1 adalah Sumatera, kemudian pulau yang kedua itu adalah Kalimantan baru yang ketiga Jawa," jelasnya.
"Sumatra ini memang harus menjadi prioritas kita, high priority of the mitigation for the extreme weather," tambahnya.
Proyeksi itu dilakukan berdasarkan data historis yang terjadi sampai saat ini untuk wilayah tersebut.
Potensi hujan ekstrem juga dapat terjadi di wilayah Sumatera dalam beberapa waktu ke depan di periode musim hujan yang secara tradisional berlangsung pada Desember, Januari dan Februari.
Terkait alasan peningkatan angin dan hujan ekstrem di wilayah tersebut, Erma mengatakan ada dinamika yang terjadi antara laut dan atmosfer di dekat Sumatera termasuk di kawasan Selat Malaka dan Samudera Hindia.
"Kalau itu sudah berubah signifikan dua-duanya, baik hujan maupun angin, berarti kan kita tidak bisa abaikan lagi. Jadi sinyal-sinyal ini merupakan sinyal, salah satu dari kejadian langka yang harusnya terjadi 150 tahun sekali kini kita alami menjadi sangat sering," tuturnya.
Untuk itu dia mendorong langkah mitigasi menjadi prioritas, terutama di wilayah rentan di Sumatera. Mulai dari pemulihan ekosistem dengan cara melakukan pengerukan dan membuat jalur air untuk mencegah banjir bandang sampai dengan peninjauan kondisi hulu daerah aliran sungai demi memastikan kemampuan menampung air hujan. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
BPJS Ketenagakerjaan dan Jasa Raharja Luncurkan Integrasi Aplikasi Penjaminan Kecelakaan.
-
Inovasi BRIN Dorong Energi Hidrogen Bersih
-
65,8 Persen Garis Pantura Jawa Alami Abrasi, Peneliti BRIN Ungkap Penyebabnya!
-
Pemerintah Aceh Dorong Revisi UUPA demi Stabilitas Daerah dan Keberlanjutan Dana Otsus
-
41% Kebun Rakyat Jadi Kunci Produksi Nasional, Tapi Legalitasnya Masih Jadi Tantangan
-
Tiga pelajar SMAN 1 Kabupaten Lebong Bengkulu Tewas Terseret Air Bah
-
Gubernur Sulsel Sebut Kopdes Merah Putih Jadi Pusat Ekonomi Desa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.