Mendiktisaintek Dorong Sains Jadi Solusi Masalah Masyarakat
Senin, 22 Des 2025, 01:00 WIBPengembangan riset dan inovasi tidak boleh berhenti pada capaian akademik semata, melainkan harus mampu menjawab tantangan sektor kesehatan, pangan, energi, hingga lingkungan.
Jakarta - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan pengembangan sains dan teknologi di Indonesia harus bergeser dari sekadar pencapaian angka-angka menuju kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.
"Sains tidak boleh eksklusif, teknologi harus dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan pengetahuan tidak boleh tumbuh meninggalkan masyarakat," katanya melalui keterangan di Jakarta, Minggu (21/12).
Seperti dikutip dari Antara, Brian menegaskan pihaknya ingin membangun paradigma baru dimana teknologi tidak lagi berjarak dari kehidupan sehari-hari melalui Program Semesta.
Ia juga menyoroti tantangan besar dalam hilirisasi riset, yaitu Death Valley atau "Lembah Kematian" inovasi.
Brian mendorong agar prototipe hasil riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi bertransformasi menjadi produk komersial untuk menekan ketergantungan impor.
Pada kesempatan itu, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani melaporkan bahwa kolaborasi strategis antara Kemdiktisaintek dan LPDP telah membuahkan hasil nyata.
Ia menyebut, sebanyak 137 poster dan produk inovasi dari Program Semesta mencakup skema In Saintek, Tera Saintek, Resona Saintek, dan Berdikari dipamerkan sebagai bukti kedaulatan berpikir bangsa.
Najib menambahkan, 100 karya terbaik dari program berdikari akan dirangkum dalam sebuah buku yang akan diluncurkan agar lebih mudah diakses publik.
"Seratus kisah yang tersaji dalam buku itu memperlihatkan bahwa sains dan teknologi tidak berdiri di luar masyarakat. Di situlah sains dan teknologi menemukan makna sosialnya, bukan sekadar sebagai simbol kemajuan, tetapi sebagai motor penggerak yang memperkuat daya hidup, produktivitas, dan ketahanan masyarakat," ujarnya.
Di samping itu, Najib memaparkan sejumlah produk riset seperti pemanfaatan sabut kelapa dari Politeknik ATMI Surakarta, inovasi berbasis IoT untuk lahan kering di NTT oleh Politeknik Negeri Kupang, teknologi jagung sen organik oleh Politeknik Pertanian Negeri Kupang, serta transformasi limbah pasar menjadi pakan ayam oleh Universitas Papua menjadi sejumlah produk riset unggulan yang rampung pada 2025 ini.
Lulusan Berkualitas
Lebih lanjut, Brian menekankan politeknik bukan sekadar pilihan kedua, namun strategi menciptakan lulusan berkualitas yang mampu bersaing dengan talenta global.
"Politeknik itu institusi pencetak skilled labor, yang siap bersaing dengan talenta dari negara lain seperti India atau Tiongkok. Jadi bukan pilihan kedua. Maka kita harus pastikan potensi skill gap yang terjadi antara kita dengan dunia global dapat diatasi," ujarnya.
Brian menekankan arah kebijakan penguatan vokasi dilandasi upaya menaikkan kelas kualitas pendidikan dan kompetensi tenaga kerja nasional.
"Kita ingin menunjukkan kualitas SDM Indonesia sejajar dengan SDM negara maju. Pendidikan kita harus mampu melahirkan lulusan yang kompeten, profesional, dan percaya diri," ujarnya.
"Konteksnya adalah bagaimana pendidikan tinggi Indonesia, khususnya pendidikan tinggi vokasi, mampu membuktikan kualitasnya di tingkat global," tambah Brian.
Senada dengan Brian, Ketua Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI) Ahyar M. Dyah menyampaikan bahwa Politeknik Negeri se-Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan beberapa negara dalam pemenuhan tenaga terampil.
"FDPNI pun siap mendukung penuh upaya mempersiapkan lulusan dari pendidikan tinggi vokasi untuk dapat bekerja menembus pasar kerja global dan mengawal keberlanjutan program tersebut sebagai bagian dari transformasi pendidikan tinggi vokasi di Indonesia," tutur Ahyar M. Dyah.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.