ASEAN Turun Tangan, Thailand-Kamboja Diminta Redam Konflik Perbatasan Jelang Pertemuan Militer

Senin, 22 Des 2025, 20:10 WIB

JAKARTA - Para menteri luar negeri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mendesak Thailand dan Kamboja untuk menahan diri secara maksimal di tengah meningkatnya ketegangan perbatasan yang masih berlangsung hingga awal pekan ini. Desakan tersebut disampaikan dalam pertemuan tingkat menteri ASEAN yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin.

Dalam pernyataan bersama, para menteri luar negeri ASEAN menegaskan kesiapan kolektif kawasan untuk mendukung setiap upaya yang berkontribusi pada penurunan eskalasi dan pemulihan stabilitas di wilayah perbatasan kedua negara. ASEAN menilai konflik terbuka yang berlarut berpotensi mengganggu keamanan regional dan merugikan warga sipil di kedua sisi perbatasan.

Ket. Foto: — Sumber: Anadolu Agency

Pernyataan tersebut mengungkapkan keprihatinan serius atas situasi yang berkembang, termasuk meningkatnya korban jiwa, kerusakan infrastruktur sipil, serta gelombang pengungsian warga yang terdampak langsung oleh bentrokan. Kekerasan yang terus terjadi dinilai bertentangan dengan prinsip perdamaian dan kerja sama yang selama ini dijunjung ASEAN.

ASEAN juga menyerukan agar Thailand dan Kamboja memastikan warga sipil di wilayah terdampak dapat kembali ke rumah serta menjalani kehidupan dan mata pencaharian mereka seperti sediakala. Penekanan diberikan pada pemulihan yang aman, tanpa hambatan, serta dilakukan dengan menjunjung martabat kemanusiaan.

Dalam pernyataan yang sama, para menteri luar negeri menegaskan kembali komitmen bersama ASEAN untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekuatan bersenjata. Penyelesaian sengketa secara damai, penghormatan terhadap batas internasional, serta kepatuhan pada hukum internasional ditegaskan sebagai fondasi utama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.

ASEAN secara khusus mendesak kedua negara untuk segera menghentikan seluruh bentuk permusuhan dan mengambil langkah konkret guna menurunkan ketegangan. Organisasi regional tersebut menilai bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan memperburuk kondisi kemanusiaan dan memperpanjang krisis di kawasan perbatasan.

"Pertemuan tersebut menyerukan kedua negara untuk memulihkan rasa saling percaya dan keyakinan, serta kembali berdialog, termasuk melalui mekanisme bilateral," demikian bunyi pernyataan bersama yang dirilis usai pertemuan para menteri luar negeri ASEAN.

Menindaklanjuti pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow menyampaikan bahwa Bangkok dan Phnom Penh telah sepakat menggelar pertemuan antarpejabat militer dalam waktu dekat. Thailand sebelumnya mengusulkan agar kedua militer segera bertemu untuk membahas langkah-langkah penghentian konflik.

Pertemuan militer itu dijadwalkan berlangsung pada 24 Desember mendatang dalam kerangka General Border Committee (GBC) atau Komite Perbatasan Umum antara Thailand dan Kamboja. Forum ini diharapkan menjadi jalur komunikasi langsung guna meredakan ketegangan di lapangan.

Para menteri luar negeri ASEAN menyambut baik rencana pembahasan mengenai dimulainya kembali gencatan senjata serta penghentian permusuhan melalui mekanisme tersebut. ASEAN berharap dialog militer ini mampu menghasilkan kesepakatan konkret yang berdampak langsung pada penurunan eskalasi konflik.

"Para Menteri Luar Negeri ASEAN menyatakan harapan agar permusuhan dapat mereda sesegera mungkin," lanjut pernyataan itu. 

Harapan tersebut disertai dorongan agar kedua pihak memanfaatkan jalur diplomasi dan komunikasi terbuka untuk mencegah salah perhitungan di lapangan.

Di sisi lain, Kementerian Dalam Negeri Kamboja melaporkan adanya seorang warga negara Tiongkok yang terluka akibat insiden penembakan di Provinsi Battambang. Korban diketahui merupakan pekerja di perusahaan pertambangan yang berada di wilayah terdampak bentrokan.

Pemerintah Kamboja menyebut insiden tersebut terjadi akibat tembakan dan jatuhnya berbagai jenis amunisi yang diduga dilepaskan oleh pasukan Thailand. Kejadian ini menambah kompleksitas konflik karena melibatkan warga negara asing di area sengketa.

Sementara itu, otoritas Thailand melaporkan sedikitnya 21 tentara Thailand dan satu warga sipil tewas sejak bentrokan pecah. Di pihak lain, Kementerian Dalam Negeri Kamboja menyatakan sebanyak 20 warga sipil Kamboja meninggal dunia dan sekitar 80 orang lainnya mengalami luka-luka.

Thailand juga mencatat adanya 33 warga sipil tambahan yang meninggal dunia sebagai dampak tidak langsung dari konflik tersebut. Korban-korban ini dilaporkan meninggal akibat gangguan layanan, evakuasi darurat, dan kondisi tidak stabil yang ditimbulkan oleh situasi keamanan di wilayah perbatasan.

Dengan meningkatnya korban dan tekanan regional, langkah Thailand dan Kamboja dalam beberapa hari ke depan akan menjadi sorotan utama ASEAN. Pertemuan militer yang dijadwalkan digelar pada 24 Desember dinilai krusial dalam menentukan arah penyelesaian konflik dan stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.