Ekonomi Kreatif Perlu Diperkuat sebagai Mesin Baru Pertumbuhan

Kamis, 18 Des 2025, 01:30 WIB

Lebih dari 50 persen tenaga kerja berusia di bawah 40 tahun, ekonomi kreatif kian relevan bagi anak muda.

Jakarta – Ekonomi kreatif semakin menunjukkan perannya sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang relevan dengan tantangan zaman. Data terbaru menunjukkan sektor ini tidak hanya mampu menyerap jutaan tenaga kerja, tetapi juga didominasi oleh generasi muda yang menjadi tulang punggung produktivitas nasional ke depan. 

Ket. Foto: Teuku Riefky Menteri Ekraf - Ekonomi kreatif bukan lagi sekadar potensi, melainkan tambang baru dan mesin baru pertumbuhan ekonomi. — Sumber: antara

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menyampaikan berdasarkan laporan statistik ekonomi kreatif dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan jumlah pekerja ekonomi kreatif tahun 2025 mencapai 27,4 juta orang atau 18,70 persen dari total penduduk bekerja.

Seperti dikutip dari Antara, Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya mengatakan bahwa capaian tersebut menunjukkan kinerja sektor ekraf melampaui target nasional dan hal itu tidak terlepas dari peran strategis BPS dalam menyediakan data yang akurat dan berkelanjutan.

“Apresiasi saya sampaikan kepada BPS. Kolaborasi ini pernah terjalin sejak 2010, sempat terputus, dan pada 2025 kembali kami hidupkan sebagai implementasi Asta Ekraf, khususnya Ekraf Data, untuk memperkuat data-driven policy making,” ujar Menteri Ekraf Teuku Riefky di Jakarta, Rabu (17/12).

Laporan tersebut mencakup capaian tenaga kerja, ekspor, dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah pekerja ekonomi kreatif yang mencapai 27,4 juta orang itu melampaui target 2025 sebesar 25,55 juta orang.

Selain itu, lebih dari 50 persen tenaga kerja ekonomi kreatif berusia di bawah 40 tahun menunjukkan sektor ini menjadi sumber lapangan kerja baru yang relevan bagi generasi muda.

Terus Meningkat

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan peningkatan luar biasa di tenaga kerja ekonomi kreatif, tentunya menjadi salah satu kontributor terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia.

Amalia menyebut PDB ekonomi kreatif Indonesia sejak tahun 2022 hingga tahun 2024 terus meningkat dimana pada tahun 2024 ini pertumbuhan PDB ekraf mencapai 6,57 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,03 persen.

BPS mencatat ekonomi kreatif terhadap nilai PDB ADHB (Atas Dasar Harga Berlaku) tahun 2024 mencapai 1.611,2 triliun rupiah atau berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar 7,28 persen.

Dalam hal ekspor, ekonomi kreatif mencatat kinerja positif dengan nilai ekspor Januari–Oktober 2025 mencapai 26,68 miliar dollar AS atau 11,96 persen dari total ekspor nonmigas nasional, melampaui target RPJMN 2025 sebesar 26,44 miliar dollar AS.

Subsektor fesyen menjadi penyumbang terbesar dengan nilai 14,86 miliar dollar AS, disusul kriya sebesar 11,10 miliar dollar AS. Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor, diikuti Swiss dan Jepang.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyoroti tantangan besar Indonesia dalam menghadapi urbanisasi, biaya logistik yang tinggi, keselamatan transportasi, serta dampak lingkungan, sehingga diperlukan pendekatan mobilitas di atas infrastruktur yang mengintegrasikan kebijakan, teknologi, dan pengalaman pengguna.

"Ini adalah terobosan yang sangat baik dan menjadi awal untuk menghadirkan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Infrastruktur merupakan tulang punggung mobilitas, namun juga membutuhkan pemikiran kreatif dan inovasi teknologi agar sistem transportasi semakin aman, efisien, dan berpusat pada manusia," kata AHY.

  • Ekonomi Kreatif

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.