Hari Ibu di DIY Tegaskan Peran Strategis Perempuan dalam Ketahanan Keluarga

Senin, 15 Des 2025, 11:50 WIB

YOGYAKARTA - Peringatan Hari Ibu di Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menjadi momentum untuk menegaskan peran strategis perempuan, khususnya ibu, dalam membangun ketahanan keluarga dan mendorong perubahan sosial. Nilai tersebut mengemuka dalam audiensi panitia Peringatan Hari Ibu bersama lima komponen organisasi perempuan se-DIY yang digelar pada Jumat (12/12) di Yogyakarta.

Pertemuan tersebut menjadi ruang bersama untuk menyamakan pandangan mengenai pentingnya peran ibu, tidak hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Audiensi ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ibu 2025 yang menitikberatkan pada penguatan jejaring dan kontribusi perempuan lintas generasi.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. @humasjogja

Ketua Pelaksana Peringatan Hari Ibu 2025, GKBRAA Paku Alam, menyampaikan bahwa tema Srawung Wanudyo dipilih untuk menegaskan makna kebersamaan dan kolaborasi antarperempuan dari berbagai latar belakang organisasi.

“Tema Srawung Wanudyo, bermakna perempuan-perempuan yang bertemu, berkumpul melakukan kegiatan-kegiatan bermakna dan edukatif. Lintas organisasi, lintas generasi TP-PKK dan BKOW,” ujar Gusti Putri.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan peringatan Hari Ibu tahun ini juga diarahkan untuk menumbuhkan empati dan kepedulian dalam keluarga. Melalui lomba read aloud dan menulis surat untuk ibu, nilai kasih sayang diharapkan dapat ditanamkan sejak dini, sekaligus mengingatkan peran perempuan sebagai pendidik pertama dalam keluarga.

“Bahwa seorang perempuan juga yang pertama dan utama untuk mendidik anaknya. Jadi kita melaksanakan lomba-lomba read aloud, menulis surat untuk ibu. Supaya menumbuhkan rasa empati, menumbuhkan rasa kepedulian terhadap keluarganya sendiri. Yang pertama itu, perempuan sebelum keluar berkegiatan, keluarganya harus bahagia dahulu,” jelasnya.

Usai audiensi, Gusti Putri menegaskan harapannya agar perempuan, khususnya yang memiliki peran strategis di organisasi, dapat terus menghadirkan kontribusi positif bagi lingkungan dan komunitasnya. “Jadi saya ingin perempuan-perempuan di Yogyakarta, apalagi ini pemangku kebijakan di organisasi masing-masing, supaya bisa melakukan hal-hal positif dan untuk organisasinya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY Erlina Hidayati Sumardi menilai bahwa isu-isu perempuan yang dihadapi saat ini masih sejalan dengan perjuangan sejak Kongres Perempuan 1928. Pendidikan perempuan, pencegahan perkawinan usia dini, serta hak kesehatan perempuan disebut masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian berkelanjutan.

“Pada saat itu yang diperjuangkan itu pendidikan perempuan, kemudian hak perempuan untuk tidak dinikahkan dini, kemudian hak kesehatan perempuan. Nah sampai hari ini pun yang tiga ini juga masih menjadi permasalahan kita,” tegas Erlina.

Ia menambahkan, penguatan peran ibu dalam pengasuhan dan komunikasi keluarga menjadi kunci dalam membangun ketahanan keluarga. Oleh karena itu, program-program organisasi perempuan di DIY terus diarahkan untuk mendukung peran tersebut secara konsisten.

“Pengasuhan dan komunikasi di dalam keluarga artinya ketahanan keluarga yang lebih baik. Nah, itu yang kami harapkan dengan semua bergerak, ibu-ibu melalui komponen masing-masing, baik selama peringatan Hari Ibu maupun selama setahun. Program-program dari organisasi perempuan di Yogyakarta ini kami sangat berharap didukung oleh media,” tutupnya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.