Menhir Desa Lawang Agung Rejang Lebong Banyak Dikunjungi Peneliti

Minggu, 14 Des 2025, 22:28 WIB

REJANG LEBONG, BENGKULU - Menhir atau batu besar berbentuk tiang peninggalan zaman prasejarah di Desa Lawang Agung, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, sejak beberapa tahun belakangan banyak dikunjungi peneliti guna mengetahui sejarah peradaban masa lampau di wilayah itu.

Kepala Desa Lawang Agung, Kecamatan Sindang Beliti Ulu (SBU) Adi Bing Slamet di Rejang Lebong, Minggu (14/12), mengatakan desa yang dipimpinnya itu berada persis di kaki Bukit Balai Rejang yang merupakan kawasan hutan lindung dan masuk dalam gugusan Bukit Barisan, di mana selain memiliki keindahan alam, juga peninggalan bersejarah.

Ket. Foto: Menhir Kuto Giri yang ada di Desa Lawang Agung, Kecamatan Sindang Beliti Ulu, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. — Sumber: ANTARA/Nur Muhamad

"Di desa kami ini ada empat menhir yang statusnya masih berupa Objek Diduga Cagar Budaya atau ODCB. Sudah banyak peneliti yang datang ke sini untuk melakukan penelitian," kata dia.

Dia menjelaskan empat menhir yang ada di Desa Lawang Agung ini yaitu menhir Situs Rimba, Kuto Giri, Tetralith dan Dolmen atau meja batu.

Keberadaan empat menhir di desanya itu, kata dia, sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka, dan sampai kini masih mereka jaga dengan baik.

Menhir-menhir itu berada persis di dalam areal perkebunan kopi warga, sedangkan pengunjung yang akan melihatnya bisa berjalan kaki dari Desa Lawang Agung sekitar 30 menit. Peninggalan yang paling jauh adalah dolmen atau meja batu yang posisinya sudah berbatasan dengan Desa Lubuk Alai, Kecamatan Sindang Beliti Ulu.

20251214222726_IMG_20251214_203441.jpeg

Menhir Situs Rimba yang ada di Desa Lawang Agung, Kecamatan Sindang Beliti Ulu, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Antara/Nur Muhamad

Dia berharap, empat menhir yang ada di Desa Lawang Agung bisa ditingkatkan statusnya menjadi cagar budaya, sehingga nantinya akan menjadikan desa mereka sebagai desa budaya di Kabupaten Rejang Lebong.

Juhadi (55), tokoh masyarakat Desa Lawang Agung, menyatakan dirinya sejak tahun 2020 telah mengenalkan keberadaan menhir di desa itu kepada masyarakat luar melalui media sosial, wawancara dengan kalangan akademisi dan peneliti.

"Di Situs Rimba itu ada simbol mandala mandulika atau berumbung matahari, itu dijumpai di Kerajaan Kolana Landak, Sriwijaya dan Majapahit. Karena di sini masuk dalam Sumbagsel maka dikaitkan Kerajaan Sriwijaya," katanya.

Menurut dia, pada simbol mandala mandulika sebelah utara Situs Rimba adalah batang tubuh filosofi, spiritual masyarakat Lembak (suku di Rejang Lebong) yang mengajarkan keseimbangan lahir dan batin.

"Di Situs Rimba ini ada simbol orang duduk di atas kuda. Itu bukan duduk, tetapi berdiri di atas kuda, di mana kuda itu adalah hewan yang patuh. Maka dia berdiri di atas kepatuhan, maka dia moksa," ungkap Juhadi. Ant

  • Menhir

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Opik

Berita Terbaru

Melon Jadi Harapan Baru! Kelompok Tani di Kulon Progo Genjot Ketahanan Pangan

AS Kenakan Tarif 50 Persen untuk Barang Kanada Senilai US$20 Miliar, Ottawa Siapkan Balasan

Gubernur Pramono Tegas! Efisiensi Bukan Alasan untuk Mengorbankan Layanan Dasar Warga Jakarta

Pasukan Tambahan Berdatangan! Tiga Batalyon dari Jawa Bantu Atasi Karhutla Kalimantan

Mengkhawatirkan! 9 Kali Meletus dalam Sehari, Gunung Anak Krakatau Jadi Sorotan

Koperasi Tak Boleh Kuno Lagi! Menkop Ferry Dorong Digitalisasi hingga Ekspansi Bisnis

Dugaan Jual Beli Kursi Jalur Mandiri Unsoed Terjadi di Masa Rektor Akhmad Sodiq.

Gempa NTT, Pelni Cabang Ambon Siapkan Layanan Pengiriman Bantuan Kemanusiaan.

Relawan Medis UMI Makassar Tembus Pegunungan Manggarai, Bantu Warga Terdampak Bencana.

Baznas Salurkan 1.000 Mushaf Al Quran kepada Masyarakat Kampung Baduy.

Hujan Kalsel Diprakirakan Meningkat Oktober, BMKG Sebut Bisa Bantu Atasi Karhutla.

Karhutla Tanah Bumbu, Polisi Bagikan Masker untuk Lindungi Warga dari Asap.

Karhutla Jadi Perhatian, Papua Tengah Bentuk Satgas untuk 8 Kabupaten.

Kementerian PU Turun Tangani Karhutla di Tanjung Selor, Kaltara.

Kabut Asap Karhutla Muncul, Pelayaran Speedboat Tanjung Selor-Tarakan Tetap Normal.

Sungai Musi Dipenuhi Sampah, Wali Kota Palembang Ajak Warga Bergerak.

Pemerintah Luruskan Istilah “Emas di Bawah Bantal”, Ternyata Ada 1.800 Ton Senilai Rp4.000 Triliun

Mau Selamatkan Harimau? Rantai Makanan Harus Dijaga.

Rayakan 5 Abad Banjarmasin, Festival Tari Daerah Jadi Upaya Lestarikan Tradisi.

Polisi Buru Pemodal Sindikat Uang Palsu Rp36 Miliar di Tangsel

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.