Kopdes Bukan Ancaman, Tapi Pendorong Efisiensi: Menkop Tantang UMKM Lebih Kompetitif!

Selasa, 09 Des 2025, 23:25 WIB

JAKARTA – Persaingan antara gerai Kopdes Merah Putih dengan warung dan pelaku UMKM lokal dinilai dapat menciptakan dinamika usaha yang lebih sehat sepanjang dilakukan secara proporsional dan kolaboratif.

Kehadiran Kopdes yang menawarkan harga lebih terstandar dan pasokan lebih stabil memang berpotensi mengubah preferensi konsumen, namun di sisi lain juga mendorong pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas layanan, efisiensi, serta diferensiasi produk.

Ket. Foto: Petugas menata botol minyak goreng di Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjar Agung, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten, Rabu (19/11/2025). — Sumber: ANTARA FOTO/ Angga Budhiyanto

Kunci utamanya adalah memastikan model bisnis Kopdes tidak mematikan usaha kecil, melainkan memfasilitasi integrasi rantai pasok, pembinaan, dan kemitraan yang saling menguntungkan.

Dengan desain kebijakan yang tepat, persaingan ini dapat menjadi katalis peningkatan daya saing UMKM sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi desa.

Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono menyatakan bahwa Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih tetap dapat bersaing secara sehat dengan warung, UMKM, dan pasar tradisional, sehingga manfaat ekonomi dapat kembali kepada masyarakat.

Saat meluncurkan Koperasi Kelurahan Merah Putih Tukangkayu di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (9/12), Ferry mengatakan Kopdes dapat bekerja sama dengan warung kecil dan UMKM melalui akses harga khusus hasil kerja sama koperasi dengan sejumlah BUMN.

Kerja sama tersebut, menurut dia, memungkinkan Kopdes menjual kebutuhan pokok, seperti LPG 3 kilogram dengan harga agen dengan jumlah tabung yang semakin banyak, pupuk bersubsidi, dan minyak goreng subsidi.

“Ketika masyarakat diberi akses permodalan dan badan usaha yang adil, potensi desa dan kelurahan bisa berkompetisi sehat dengan pelaku usaha lain,” ujarnya dalam keterangan pers.

Menkop mendorong pelaku UMKM di Banyuwangi untuk membangun industri kecil yang hasil produksinya dapat dipasarkan melalui gerai sembako koperasi.

“Kita produksi sendiri, dibiayai sendiri, jual sendiri. Ini yang kita maksud dengan kedaulatan ekonomi, bukan barang impor, melainkan produk lokal,” ucap dia.

Ia menekankan agar Kopdes menyesuaikan diri dengan potensi desa masing-masing, seperti kuliner dan kerajinan, serta memastikan gerai sembako dikelola secara modern dengan toko yang terang, bersih, nyaman, dan menjual beragam produk UMKM lokal.

Ia menekankan bahwa Kopdes akan dikelola secara modern dengan berbagai unit usaha, mulai dari gerai sembako, apotek, klinik, gudang, hingga lembaga keuangan mikro.

Lebih lanjut, Ferry memastikan akuntabilitas operasional Kopdes Merah Putih melalui integrasi dengan aplikasi Jaga Desa.

Digitalisasi ini, menurut Ferry, menjadi fondasi koperasi yang akuntabel, memungkinkan pengawasan dan mitigasi risiko berjalan lebih baik, sehingga Kopdes dapat bersaing sehat sekaligus mendukung ekonomi masyarakat desa.

  • Kopdes Merah Putih

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.