• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Temuan Kimia Organik Kompl...

Temuan Kimia Organik Kompleks, Enceladus Berpotensi Layak Huni

Senin, 01 Des 2025, 07:16 WIB

ENCELEDUS, bulan Saturnus selebar 500 kilometer, telah menjadi target utama dalam perburuan kehidupan ekstraterestrial selama hampir dua dekade. Pada tahun 2005, tak lama setelah tiba di orbit planet bercincin tersebut, misi gabungan NASA–Badan Antariksa Eropa (ESA) Cassini menemukan hal mengejutkan berupa semburan air yang menyembur dari kutub selatan Enceladus.

Semburan air itu semakin memperkuat bukti bahwa bulan tersebut menyimpan samudra air cair di bawah kerak esnya yang berwarna putih cerah. Para ahli astrobiologi semakin terpesona oleh karena studi lebih lanjut tentang butiran es semburan tersebut telah mengungkapkan berbagai molekul penyusun kehidupan yang menyembur keluar dari samudra tersembunyi tersebut.

Ket. Foto: Enceladus, bulan Saturnus selebar 500 kilometer. — Sumber: Istimewa

Kini, para ilmuwan yang meninjau kembali data dari Cassini, yang mengakhiri misinya ke Saturnus pada tahun 2017, telah menemukan lebih banyak lagi unsur menarik dalam semburan tersebut berupa rangkaian molekul organik kompleks. Di Bumi molekul ini terlibat dalam reaksi kimia yang berkaitan dengan senyawa yang lebih besar yang dianggap penting bagi biologi.

Dalam penemuan yang dipublikasikan di Nature Astronomy, memperkuat argumen untuk misi lanjutan guna mencari tanda-tanda kehidupan di dalam bulan yang penuh teka-teki ini. Keterpencilannya dari Bumi bukanlah satu-satunya hal yang membuat Enceladus menyimpan begitu banyak rahasia untuk waktu yang lama.

“Pengorbit Cassini sebenarnya tidak dirancang untuk pengamatan mendalam terhadap satu objek spesifik di sistem Saturnus,” kata Nozair Khawaja, ilmuwan planet di Universitas Bebas Berlin, yang memimpin studi Nature Astronomy dikutip dari Scientific American.

Cassini diluncurkan hampir 30 tahun yang lalu, ketika samudra bawah permukaan dan semburan kutub selatan Enceladus belum diketahui. Menggunakan kembali perangkat lamanya untuk astrobiologi mendalam merupakan hal yang sulit terutama karena betapa sulitnya mengolah data yang dihasilkan.

Salah satu masalahnya adalah resolusi yang relatif rendah yang tersedia dari spektrometer massa di Cassini yang disebut Cosmic Dust Analyzer (CDA), yang mengurai komposisi kimia kepulan debu dari butiran es yang mengenai detektornya setiap kali wahana antariksa tersebut menukik menembus gumpalan debu.

Gumpalan debu tersebut terbukti begitu tebal dengan material, kata Khawaja, sehingga CDA akan kewalahan selama penerbangan lintas Cassini di Enceladus. Para ilmuwan dapat dengan jelas melihat bahwa molekul air biasa merupakan sebagian besar material yang terkumpul—hampir 98 persen, menurut ­Khawaja.

Namun, untuk menyusun sifat dari 2 persen sisanya, diperlukan banyak penerbangan lintas yang dirancang dengan cermat dan penyesuaian pada operasi CDA selama beberapa tahun. Penerbangan lintas yang akhirnya tepat sasaran adalah sebuah manuver pada 9 Oktober 2008, dengan nama sandi E5.

Penerbangan itu menggabungkan kecepatan di atas rata-rata hampir 18 kilometer per detik (km/s), sekitar 6 km/s lebih cepat daripada penerbangan lintas lainnya. Kebetulan letusan Enceladus terjadi beberapa menit sebelumnya.

“Kecepatan tumbukannya lebih tinggi, dan pada kecepatan setinggi itu, molekul air hancur. Mereka tidak bertahan hidup. Namun, spesies lain seperti organik tetap ada,” jelas Khawaja. Material yang baru saja terlontar belum diubah atau terdegradasi oleh radiasi kosmik.

Beberapa rekan penulis studi terbaru menerbitkan sebuah makalah pada tahun 2011 yang menganalisis hasil penerbangan lintas E5 setelah bertahun-tahun melakukan analisis data yang cermat, mencatat molekul organik tetapi tidak dapat menentukan molekul apa itu.

Kini, berdasarkan eksperimen mendalam yang meneliti bagaimana perbedaan kecepatan tumbukan butiran es memengaruhi data CDA, para peneliti yakin mereka telah melacak sebagian besar isi semburan, dengan implikasi besar bagi kemungkinan bulan tersebut menampung kehidupan.

Penelitian tim ini mengungkapkan bahwa semburan tersebut mengandung banyak molekul yang familier, termasuk beberapa senyawa kimia masif dan kompleks yang sebelumnya dideteksi Cassini dalam torus es dan debu yang dilepaskan Enceladus ke orbit Saturnus. hay

  • Bulan Saturnus

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.