Uni Eropa Siap Gerak Cepat: Aset Russia Bakal Diutak-atik Buat Danai Ukraina?

Rabu, 26 Nov 2025, 20:45 WIB

JAKARTA - Uni Eropa sedang menyiapkan proposal hukum yang bisa membuka jalan untuk menggunakan aset Rusia yang dibekukan demi membantu Ukraina menghadapi perang yang terus berlangsung. Langkah ini disebut sebagai upaya memperkuat dukungan yang selama ini dilakukan blok tersebut dan memperjelas posisi politik mereka di konflik Eropa Timur.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengonfirmasi bahwa draf regulasi tengah disusun dan kemungkinan akan mencakup mekanisme pemanfaatan aset yang selama ini diimobilisasi. Pernyataan tersebut menandai perubahan besar dalam strategi Uni Eropa yang sebelumnya hanya mempertimbangkan penggunaan keuntungan hasil bunga dari aset tersebut.

Ket. Foto: — Sumber: Anadolu Agency

"Kami sedang mengerjakan proposal hukum yang dapat memungkinkan hal itu," ujar Ursula von der Leyen saat menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers di Brussel.

Aset Rusia senilai ratusan miliar euro saat ini dibekukan oleh Uni Eropa dan negara-negara G7 sebagai bagian dari sanksi terhadap Moskow. Selama beberapa bulan terakhir, sejumlah negara anggota mendesak Komisi Eropa untuk bergerak lebih berani karena Ukraina semakin membutuhkan dukungan finansial.

Proposal tersebut didorong oleh kekhawatiran bahwa bantuan untuk Ukraina tidak bisa terus bergantung pada keputusan politik yang berulang dari negara-negara anggota. Pejabat UE menyebut penggunaan aset ini dapat menciptakan sumber dana jangka panjang yang stabil dan tidak terpengaruh dinamika politik internal.

Meski begitu, sejumlah negara Eropa menilai penggunaan langsung aset Rusia bisa menimbulkan dampak hukum internasional yang rumit. Mereka khawatir langkah tersebut dapat melemahkan kredibilitas sistem keuangan global dan memicu tindakan balasan dari negara lain.

"Kita harus memastikan apa pun yang dilakukan tetap berada dalam kerangka hukum internasional," kata seorang diplomat Eropa yang tidak mau disebutkan namanya.

Para ahli hukum internasional juga memperingatkan bahwa penyitaan aset negara berdaulat bisa memicu preseden global yang berbahaya. Mereka menilai Uni Eropa perlu mempertimbangkan risiko jangka panjang sebelum mengambil langkah yang terlalu agresif dalam konteks sanksi internasional.

Namun kelompok pro-Ukraina berpendapat bahwa Rusia harus menanggung konsekuensi ekonomi atas keputusan invasinya. Mereka mendorong UE mengambil posisi yang lebih tegas untuk memastikan Ukraina tetap memiliki kemampuan bertahan secara militer dan ekonomi.

"Ini bukan hanya soal aset, tapi soal keadilan bagi Ukraina," ujar seorang analis kebijakan Eropa yang mendukung penggunaan aset tersebut.

Uni Eropa hingga kini menjadi penyumbang bantuan finansial terbesar bagi Ukraina, dan kebutuhan pendanaan diperkirakan akan meningkat sepanjang 2025. Blok tersebut juga tengah menyiapkan paket bantuan baru, termasuk dukungan rekonstruksi dan penguatan sistem energi Ukraina.

Langkah ini juga dipandang sebagai sinyal bahwa UE ingin mempertahankan kepemimpinan global dalam menghadapi agresi Rusia. Di saat beberapa negara Barat mulai menunjukkan kelelahan politik terhadap konflik, UE berusaha memastikan dukungan tetap solid dan berkelanjutan.

Keputusan final terkait proposal ini kemungkinan akan menjadi salah satu isu paling panas dalam pertemuan Dewan Eropa mendatang. Negara anggota diperkirakan akan terbelah tajam antara yang mendukung langkah tegas dan yang menginginkan pendekatan lebih hati-hati.

Jika proposal ini berhasil disahkan, keputusan tersebut akan menandai titik balik dalam sejarah kebijakan sanksi modern. Kebijakan itu juga dapat membuka babak baru dalam upaya komunitas internasional menekan Rusia agar menghentikan invasinya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.