• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Ketika Masa Lalu Menyapa M...

Ketika Masa Lalu Menyapa Masa Kini

Jumat, 21 Nov 2025, 07:43 WIB

SETELAH sekian lama tertutup waktu, Fort Willem I atau Benteng Pendem Ambarawa di Desa Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, kini tampil dengan wajah baru. Revitalisasinya resmi selesai dan mulai dibuka untuk umum pada Senin (17/11).

Sejak hari pertama, antusiasme masyarakat melonjak tinggi pengunjung berdatangan, tak hanya dari Ambarawa, tetapi juga dari Semarang, Salatiga, hingga Yogyakarta, penasaran melihat bagaimana benteng itu dihidupkan kembali.

Ket. Foto: Benteng Willem I atau Benteng Pendem, di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, menjadi saksi bisu kolonialisme Belanda hingga tekad bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan. — Sumber: Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Ja

Revitalisasi benteng tidak sekadar mempercantik bangunan tua, melainkan menggabungkan pelestarian sejarah dengan sentuhan modern.

Benteng kini bukan hanya monumen bisu peninggalan kolonial, tetapi berubah menjadi ruang publik aktif: tempat belajar sejarah, bersantai, menikmati kuliner, dan tentu saja berfoto di spot-spot ­instagramable yang ­dihadirkan.

Kasdam IV/Diponegoro, Brigjen TNI M. Andhy Kusuma, dalam peresmian revitalisasi menegaskan bahwa benteng ini bukan hanya ikon masa lalu, namun simbol komitmen masa depan dalam mengelola dan merawat warisan budaya.

“Benteng Pendem harus menjadi sarana wisata edukasi sejarah dan budaya yang berkualitas, sekaligus memberi dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dikutip dari Jateng.go.id.

Tak hanya menjadi destinasi edukatif, benteng juga disiapkan sebagai pusat kegiatan ekonomi kreatif dan wisata kuliner modern. Presiden Direktur PT Lawu Grup selaku pengelola, Parmin Sastro Wijono, menyebut konsep pengembangannya bakal serupa “Bukit Bintang Malaysia,” yang dikenal sebagai kawasan wisata malam dengan kuliner, lampu-lampu estetik, dan pusat UMKM.

Di dalam kompleks, pengunjung akan menemukan pusat oleh-oleh, café bergaya industrial heritage, galeri mobil antik, hingga area terbuka yang cocok untuk pameran budaya dan pertunjukan musik. Benteng Pendem kini bukan sekadar tempat bersejarah—ia menjadi ruang hidup.

Tetap Bernapas

Benteng yang selesai dibangun pada 1845 ini dirawat dengan sangat hati-hati. Bagian dinding yang retak tidak sembarangan ditutup, tetapi dipertegas dengan formula khusus agar tetap tampak seperti saat pertama berdiri.

Permukaan yang mengelupas dibiarkan tampak natural, menghadirkan kesan “antik megah” tanpa kemewahan yang berlebihan.

Beberapa bagian diberi cat putih bersih yang memberikan kesan segar dan kokoh, kontras dengan tembok bata merah asli yang dibiarkan terbuka sebagai saksi bisu masa kolonial. Perpaduan ini justru menciptakan atmosfer visual yang unik—antara masa lalu dan kini.

Pemandangan semakin dramatis saat sore dan malam hari. Lampu berwarna kuning hangat disorotkan ke lorong-lorong arcade dan dinding benteng, membuat bangunan klasik Eropa itu terlihat megah, hidup, dan fotogenik. hay

  • Jejak Kolonial

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.