Kemkomdigi Tangani 8.320 Konten Bermuatan Terorisme
Rabu, 19 Nov 2025, 03:03 WIBJAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berhasil menangani 8.320 konten bermuatan radikalisme maupun terorisme pada 20 Oktober 2024 sampai 16 November 2025.
âDalam periode satu tahun ini ada 8.320 konten dengan posisi terbesar ada di platform Meta, diikuti Google, TikTok, X, Telegram, file sharing, Snack Video, dan ada 10 situs yang juga kita tindaklanjuti,â kata Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi Alexander Sabar dalam konferensi pers Penanganan Anak Rekrutmen Secara Online Terhadap Anak-anak Oleh Kelompok Terorisme di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, ÂSelasa (18/11).
Ia merincikan, dari 8.320 konten yang ditangani, sebanyak 8.275 merupakan aduan dari kementerian/lembaga terkait. âDari Densus 88 ada 6.426 aduan yang masuk ke kami, dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ada 1.836. Lalu, dari Instansi lain, intelijen ada 11, dari TNI ada satu, dan dari Pusat Sandi dan Siber Angkatan Darat (Pussansiad) ada satu,â ungkapnya.
Alexander mengatakan, dalam pencegahan konten ilegal maupun konten negatif, Kemkomdigi mengembangkan taksonomi risiko konten yang mendorong implementasi notice and takedown yang cepat dan prosedur banding yang melindungi hak para pengguna digital.
Adapun Densus 88 Antiteror Polri mencatat hingga saat ini terdapat 110 anak yang diduga direkrut jaringan terorisme. âAda sekitar 110 anak yang berusia rentang antara 10 hingga 18 tahun, tersebar di 23 provinsi, yang diduga terekrut oleh jaringan terorisme,â kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko di Jakarta, ÂSelasa.
Ia mengungkapkan, modus propaganda yang digunakan jaringan terorisme adalah melalui ruang digital secara bertahap. âPropaganda pada awalnya diseminasi melalui platform yang lebih terbuka seperti Facebook, Instagram, dan game online,â katanya.
Propaganda itu, ujar dia, berbentuk video pendek, animasi, meme, serta musik yang dikemas menarik untuk membangun kedekatan emosional dan memicu ketertarikan Âideologis.
Tren Kenaikan
Dalam kesempatan yang sama, Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana mengatakan bahwa pihaknya melihat ada tren kenaikan jumlah anak yang diduga direkrut dalam jaringan terorisme.
Pada tahun 2011-2017, Densus 88 mengamankan kurang lebih 17 anak korban rekrutmen. Akan tetapi, pada akhir tahun 2024 hingga tahun 2025, ada 110 anak yang teridentifikasi. âAda proses yang sangat masif sekali rekrutmen yang dilakukan melalui media daring,â ujarnya.
Densus 88 menangkap lima tersangka yang diduga menjadi perekrut anak untuk bergabung ke dalam kelompok terorisme. âAda lima tersangka yang sudah diamankan oleh Densus 88 dengan tiga kali penegakan hukum dari akhir Desember 2024 hingga kemarin, hari Senin tanggal 17 November 2025,â kata Mayndra.
Ia mengatakan, lima tersangka itu merupakan orang dewasa, salah satunya terkait jaringan ISIS. Ant/S-2
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Waspada! Komdigi Peringatkan Radikalisme Menyusup dalam Games, Menyebar Lewat Interaksi di Fitur Sosial
-
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5%, Optimisme Meningkat atas Kesepakatan AS-Iran.
-
Pesta Ulang Tahun ke-18 Picu Kontroversi, Lamine Yamal Terancam Diinvestigasi oleh ADEE Spanyol
-
An Se Young Raih Gelar Juara Indonesia Open 2025
-
Disbudpar Cianjur Pastikan Tidak Ada Tiket Masuk Kawasan Cibodas
-
TMMD ke-126: TNI dan Pemda Bersatu Bangun Desa, Sejahterakan Rakyat
-
Anak Perlu Terus Dilindungi dari Radikalisme
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.