Rupiah Masih Tertekan, 18 November 2025
Selasa, 18 Nov 2025, 08:55 WIBJAKARTA â Rupiah diperkirakan masih melanjutkan pelemahannya pada Selasa (18/11), seiring dominannya sentimen global dan domestik. Kombinasi kedua faktor ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati, sehingga ruang penguatan rupiah menjadi terbatas dan tekanan jual maÂsih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed membuat pasar cenderung memilih aset aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang. Dari dalam neÂgeri, asumsi Bank Indonesia (BI) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun depan di bawah target peÂmerintah turut mempengaruhi persepsi risiko.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas sekaligus DirekÂtur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi melihat rupiah bakal bertahan di zona merah seiring menurunnya keyakinan investor global terhadap pemangkasan suku buÂnga acuan The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 9-10 Desember mendatang.
Dari sisi internal, lanjutnya, rupiah diproyeksi sulit meÂnguat setelah BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 hanya mencapai 5,33 persen atau leÂbih rendah dari yang ditetapkan pemerintah dalam AngÂgaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,4 persen.
Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terÂhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarÂbank, Selasa (18/11), bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di kisaran 16.730 - 16.770 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Senin (17/11) sore, melemah seÂbesar 29 poin atau 0,17 persen dari akhir pekan lalu menÂjadi 16.707 rupiah per dollar AS. âPelemahan kurs rupiah dipengaruhi keyakinan investor bahwa The Fed takkan meÂlonggarkan suku bunga dalam waktu dekat,â ujarnya.
Sentimen negatif terhadap rupiah juga disebabkan peÂnutupan pemerintah AS yang cukup lama terjadi, sehingga membuat investor kehilangan indikator makro utama seÂlama berminggu-minggu. Penutupan pemerintah tersebut menunda rilis dari Biro Statistik Tenaga Kerja, termasuk laporan penggajian non-pertanian bulan September, yang kini akan dirilis pada hari Kamis (20/11).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Istri Nelayan Sambut Positif Kampung Nelayan Merah Putih, Fasilitas Kini Makin Lengkap
-
Puncak Ibadah Haji, Kemenhaj Imbau Jamaah Jaga Kesehatan Selama Armuzna
-
Kloter 27 Tutup Pemberangkatan Jamaah Haji Karawang Tahun Ini.
-
Lestari Moerdijat: Perlu Komitmen Bersama dari Semua Pihak untuk Pemenuhan Hak Disabilitas
-
Peringatan Dini Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Kaltim
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.