Tuchel Kesampingkan Pembicaraan Rekor Jelang Laga Pamungkas Kualifikasi Piala Dunia

Minggu, 16 Nov 2025, 07:29 WIB

TIRANA, ALBANIA — Pelatih Inggris Thomas Tuchel menegaskan bahwa catatan rekor tidak menjadi fokusnya saat timnya bersiap menghadapi Albania pada laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia, Minggu (16/11) malam waktu setempat. Pertandingan ini akan menutup penampilan yang nyaris sempurna bagi The Three Lions.

Tuchel memulai masa kepelatihannya dengan kemenangan 2-0 atas Albania di Wembley pada bulan Maret lalu, dan kini menutup tahun pertamanya kembali menghadapi lawan yang sama di Tirana.

Ket. Foto: Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel. — Sumber: AFP

Inggris, yang sudah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat sejak bulan lalu, mencatat tujuh kemenangan beruntun di Grup K tanpa kebobolan, rekor impresif yang oleh pelatih Albania, Sylvinho, bahkan disebut “menjijikkan” secara bercanda.

Pada laga hari Minggu, Inggris berpeluang menjadi tim Eropa pertama yang memenangkan minimal enam pertandingan kualifikasi Piala Dunia tanpa kebobolan satu gol pun. Namun Tuchel menegaskan bahwa hal itu tidak masuk dalam daftar prioritasnya.

"Kami sama sekali tidak membahas hal itu," ujarnya. "Kami memastikan sesi latihan kemarin berlangsung seperti yang kami inginkan. Kualitas dan mentalitas para pemain yang tidak tampil luar biasa tinggi, benar-benar menyenangkan dilihat. Itu menunjukkan kami berada di jalur yang tepat."

Tuchel menambahkan bahwa seluruh skuad menunjukkan kesiapan. "Semua pemain siap bermain, siap menjadi starter. Kompetisi internal masih menyala, rasa lapar juga masih ada."

Inggris datang ke Albania dengan 23 pemain setelah Ezri Konsa ditarik dari pemusatan latihan karena cedera betis. Artinya, akan ada setidaknya satu perubahan dari kemenangan 2-0 atas Serbia pada Kamis lalu, ketika Jude Bellingham, Eberechi Eze, dan Phil Foden tampil menonjol sebagai pemain pengganti.

Kapten Harry Kane memastikan bahwa seluruh pemain berada dalam frekuensi yang sama dengan Tuchel, yang berusaha membangun atmosfer “persaudaraan” di dalam skuad. Menurut Kane, filosofi itu mampu diterima semua pemain meski Tuchel kerap mengambil keputusan berani dalam menentukan starting XI.

"Semua pemain ingin menjadi bagian dari tim ini. Mereka ingin menunjukkan kemampuan mereka di latihan maupun pertandingan," kata Kane. "Mereka ingin meyakinkan pelatih bahwa mereka pantas dipilih untuk turnamen musim panas mendatang."

Kane menambahkan bahwa setiap momen kebersamaan sangat penting. "Kami mungkin hanya punya beberapa sesi latihan dari sekarang hingga turnamen itu. Jadi ketika pemain seperti Marc (Guehi) datang ke kamp meski sedang cedera, hanya untuk tetap berada di lingkungan tim, itu sangat berharga."

"Kami tidak punya banyak waktu untuk menyampaikan semua pesan taktikal hingga musim panas nanti, dan dari sudut pandang itu, semuanya sejauh ini berjalan fantastis," tandas Kane.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.