Tragedi Berdarah VOC di Banda Naira
Jumat, 14 Nov 2025, 07:50 WIBBAGI masyarakat Kepulauan Banda rempah-rempah menjadi berkah sekaligus maut. Kualitas rempah-rempah yang tak tertandingi melahirkan kisah pilu. Masyarakat yang enggan terjajah melawan orang asing dengan taruhan nyawa, perjuangan yang dikenal sepanjang masa.
Cerita perlawanan dimulai ketika Pada tanggal 5 April 1608 misalnya utusan pertama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Laksamana Pieterszoon Verhoeven tiba di Pulau Banda Naira.
Kedatangannya adalah untuk mendirikan pembangunan benteng pertahanan yang kemudian dikenal dengan Benteng Nassau yang masih berdiri kokoh sampai saat ini.
Niat pembangunan benteng itu apa lagi kalau bukan memonopoli perdagangan rempah-rempah kepulauan itu. Lokasi yang dipilih berada di tempat strategis yang berombak lebih tenang di tepi pantai dekat pelabuhan utama Banda Neira yang menjadi pintu masuk utama ke gugusan Kepulauan Banda.
Atas pembangunan benteng itu pada tanggal 22 Mei 1609 rakyat Banda yang marah berhasil membunuh Laksamana Verhoeven. Namun juru bicaranya Jan Pieterszoon Coen lolos dan melarikan diri ke luar wilayah itu.
Pada April 1616 VOC memperluas Ambisi monopoli pala hingga ke pulau Ai setelah sempat gagal pada 1615. Atas perlawanan yang dilakukan ribuan rakyat banda gugur. Sebanyak 400 orang di antaranya tewas tenggelam saat mencoba kabur menyebrang ke pulau Rhun.
Pada Februari 1621 JP Coen Kembali ke banda Naira, melakukan misi balas dendam dan penaklukan dengan membawa sekitar 1665 orang Eropa. Sebanyak 250 garnisun, 100 samurai dari Jepang, dan 250 budak dari tanah Jawa didatangkan untuk meredam perlawanan.
Tak lama pada 11 maret 1621 pulau Lonthoir atau Banda Besar ditaklukan. Laksamana JP Coen memusatkan kekuatan pasukan di desa selamon. Banda Neira yang menjadi pusat perlawanan siap diluluhlantahkan.
Tragedi berdarah lainnya pun terjadi di Neira, sejumlah tokoh, ulama, pemimpin rakyat Banda dipenggal. Total sebanyak 44 orang dibunuh tubuh mereka dimasukkan kedalam lubang di Benteng Nassau.
Kepala-kepala yang telah terpisah dari badan digantung di tiang-tiang rumah warga untuk memberikan rasa takut kepada warga untuk tidak berani melawan. Genosida yang dilakukan JP Coen membuat 14 ribu rakyat Banda musnah.
Untuk mengganti populasi yang ada antara tahun 1621-1667 VOC mendatangkan orang-orang yang diperbudak baik dari Jawa, Sulawesi hingga Ambon. wap/hay
- Kepulauan Banda
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Wahyu AP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.