Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Era Belanja Online Diatur Ulang, Revisi UU Konsumen dan KPPU Segera Meluncur

📅 Jumat, 14 Nov 2025, 20:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Era Belanja Online Diatur Ulang, Revisi UU Konsumen dan KPPU Segera Meluncur Doc: ANTARA FOTO/ Aprillio Akbar
Ket. Ilustrasi - Warga menggunakan perangkat elektronik untuk berbelanja daring di sebuah situs lokapasar (e-commerce) di Semarang, Jawa Tengah.

JAKARTA – Revisi undang-undang perlindungan konsumen dan UU KPPU menjadi penting untuk menyesuaikan regulasi dengan dinamika pasar modern yang semakin kompleks dan digital.

Banyak praktik bisnis baru—seperti platform e-commerce, ekonomi berbasis data, serta integrasi rantai pasok global—belum sepenuhnya tercakup dalam aturan lama, sehingga menimbulkan celah pengawasan dan potensi kerugian bagi konsumen.

Pembaruan regulasi diperlukan agar instrumen perlindungan lebih adaptif terhadap isu keamanan data, transparansi harga, dan standar layanan.

Bagi KPPU, revisi UU memungkinkan penguatan kewenangan dalam penegakan hukum, investigasi kartel digital, dan pengawasan merger yang kian marak.

Dengan regulasi yang lebih relevan dan tegas, pemerintah dapat menciptakan pasar yang lebih sehat, kompetitif, dan adil bagi pelaku usaha maupun konsumen.

Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto mengungkapkan revisi undang-undang (UU) perlindungan konsumen dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akan mengatur transaksi daring (online).

Menurut dia, Komisi VI DPR RI sedang membahas undang-undang perlindungan konsumen dan persaingan usaha. Ada dua revisi undang-undang yakni KPPU dan perlindungan konsumen.

"Itu mengatur untuk transaksi di online-nya. Jadi itu semua nanti akan masuk. Jadi di hilirnya juga kita akan perkuat dari sisi undang-undangnya," ujar Darmadi Durianto dalam konferensi pers di Nambo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Jumat (14/11).

Menurut dia, hal tersebut bertujuan agar pencegahan yang dilakukan lebih efektif dan efisien.

Legislator tersebut juga mengapresiasi pemusnahan balpres pakaian impor bekas yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan dalam rangka melindungi industri kecil menengah tekstil dalam negeri.

"Saya melihat bahwa ternyata penegakan hukumnya sudah berjalan. Jadi kita apresiasi," katanya.

Menurut dia, thrifting atau pakaian bekas impor menjadi salah satu penyebab kerugian yang menimpa para pelaku usaha industri kecil menengah (IKM) tekstil dalam negeri.

Sebagai informasi, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) meminta dukungan PP Muhammadiyah terkait dengan revisi UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat untuk menciptakan kepastian hukum yang lebih kuat, memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi persaingan global, dan meningkatkan daya saing nasional.

Keduanya memandang penting revisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Persaingan Usaha yang kini sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR RI pada tahun 2025 untuk memastikan persaingan yang sehat di Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.