- Home
-
- Luar Negeri
-
- Emisi CO2 Diperkirakan Pec...
Emisi CO2 Diperkirakan Pecahkan Rekor pada 2025
Jumat, 14 Nov 2025, 01:00 WIBSINGAPURA â Bagi badan ilmu iklim utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tahun 2025 menjadi tahun yang sangat penting. Tahun ini merupakan batas waktu ketika emisi gas rumah kaca global harus mulai menurun dan kemudian turun secara cepat untuk membatasi dampak terburuk perubahan iklim.
Dilansir dari The Straits Times, sebuah studi yang dirilis pada Kamis (13/11), menemukan bahwa emisi karbon dioksida (COâ) global dari pembakaran bahan bakar fosil penyebab pemanasan bumi justru diperkirakan akan mencapai rekor baru pada tahun 2025.
Umat manusia kini melaju cepat menuju batas suhu utama Perjanjian Paris, yakni 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Menurut laporan itu, batas tersebut bisa terlampaui hanya dalam empat tahun jika emisi COâ tetap berada pada level saat ini. Laporan tersebut dirilis bertepatan dengan berlangsungnya perundingan iklim PBB COP30 di Belem, Brasil.
Studi yang dilakukan oleh Global Carbon Project (GCP) sebuah konsorsium ilmiah internasional, memperkirakan emisi COâ dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas akan mencapai 38,1 miliar ton pada 2025, naik 1,1 persen dibanding 2024. Emisi juga meningkat 1,1 persen pada 2024 dibanding 2023.
Emisi diperkirakan akan naik di Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE), membalik tren penurunan jangka panjang yang selama ini terjadi. Namun pertumbuhan emisi di Tiongkok dan India diproyeksikan melambat karena menurunnya permintaan terhadap batu bara sumber utama emisi COâ dunia.
âSelama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan emisi COâ dari bahan bakar fosil global terus bertahan di kisaran satu persen per tahun,â ujar Direktur Eksekutif GCP, Pep Canadell.
Analisis GCP yang kini memasuki tahun ke-20 ini disusun oleh lebih dari 100 ilmuwan dari puluhan lembaga penelitian di seluruh dunia.
âNamun, kami menemukan tanda-tanda jelas adanya perlambatan pertumbuhan emisi dari beberapa negara penghasil emisi terbesar, termasuk Tiongkok, serta penurunan nyata di banyak negara beremisi menengah dan kecil. Sangat mungkin bahwa dalam tiga hingga lima tahun ke depan, dunia akan mencapai puncak emisi global,â kata Dr. Pep Canadell kepada The Straits Times.
Namun, menurut para ilmuwan, perubahan itu masih terlalu lambat, sementara dampak perubahan iklim semakin parah dan meluas di seluruh dunia, mulai dari badai dan topan yang lebih mematikan hingga banjir besar dan gelombang panas ekstrem. Setiap tahun tambahan emisi COâ dalam jumlah besar ke atmosfer âsecara harfiah memperburuk api pemanasan globalâ.
Badan ilmu iklim PBB, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), menyatakan bahwa emisi gas rumah kaca global harus turun setengahnya pada 2030 dibandingkan tingkat 2019. âTanpa pengurangan emisi yang cepat dan mendalam di seluruh sektor, membatasi pemanasan global hingga 1,5°C akan mustahil tercapai,â kata laporan itu.
Terus Naik
Para peneliti memperkirakan pertumbuhan emisi COâ pada 2025 akan didorong oleh kenaikan konsumsi batu bara, minyak, dan gas. Emisi dari gas alam akan meningkat paling tinggi, yakni 1,3 persen dibanding 2024, kembali ke tren pertumbuhan sebelum invasi Rusia ke Ukraina.
Meski energi terbarukan seperti angin, surya, dan baterai penyimpanan tumbuh pesat, kebutuhan energi global yang meningkat belum bisa sepenuhnya dipenuhi, sehingga emisi tetap naik, ujar Dr. Canadell. Ditambah lagi, pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan listrik di banyak negara yang sebelumnya stabil selama satu hingga dua dekade terakhir turut memperparah situasi.
Faktor lain adalah pesatnya ekspansi pusat data yang haus energi, elektrifikasi transportasi, dan penggunaan peralatan rumah tangga berbasis listrik.
Menurut International Energy Agency (IEA) pada Selasa (12/11), investasi global di pusat data diperkirakan akan mencapai 580 miliar dollar AS pada 2025, melampaui investasi 540 miliar dollar AS untuk pasokan minyak dunia di tahun yang sama.
Di AS, penghasil emisi COâ terbesar kedua di dunia polusi karbon diperkirakan naik 1,9 persen, sebagian karena cuaca lebih dingin, peralihan ke batu bara yang lebih murah, dan meningkatnya permintaan listrik, misalnya untuk menyuplai energi pusat data. Di UE, emisi diperkirakan naik 0,4 persen akibat meningkatnya permintaan gas.
- hasil studi
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Tak Naik, Bea Balik Nama Kendaraan di Sulsel
-
Lindungan Generasi Muda dari Bahaya Rokok, Pemprov Kaltim Akan Serius Lakukan Hal Ini
-
Gubernur DKI Jakarta pimpin apel siaga banjir di Rawajati
-
Bulog Sebut Program SPHP Tekan Harga Beras di Gorontalo
-
Wisman Tembus 7,45 Juta, Pemerintah Didesak Maksimalkan Dampak Pariwisata bagi Ekonomi Daerah
-
Harga Emas Antam Hari Ini Rp2.540.000 per Gram, Turun Rp10.000!
-
Perjalanan Spiritual Biksu Jalan Kaki Tiba di Mojokerto
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.