Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Generasi Muda Indonesia Tuntut AI yang Gesit tapi Tetap Hangat, Riset Zoom Buka Fakta Menarik

📅 Rabu, 12 Nov 2025, 15:15 WIB | Oleh:
Generasi Muda Indonesia Tuntut AI yang Gesit tapi Tetap Hangat, Riset Zoom Buka Fakta Menarik Doc: Istimewa

JAKARTA - Generasi muda Indonesia kini jadi penggerak utama perubahan cara manusia berinteraksi dengan kecerdasan buatan (AI). Riset terbaru dari Zoom mengungkap bahwa kelompok berusia 18 hingga 24 tahun atau yang disebut AI natives menuntut layanan AI yang tidak hanya cepat dan efisien, tetapi juga memiliki sisi empati dan sentuhan manusia.

Survei yang dilakukan oleh Kantar untuk Zoom ini melibatkan 2.551 responden berusia 18-45 tahun di delapan negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, Australia, India, dan Korea Selatan. Studi tersebut membandingkan pandangan antara kelompok AI natives dan non-AI natives dalam memanfaatkan teknologi AI di dunia kerja serta dalam pengalaman sebagai pelanggan.

Hasilnya, 78 persen AI natives di Indonesia menginginkan layanan AI yang mampu memberikan respon instan dan memangkas waktu tunggu secara signifikan. Namun menariknya, 70 persen dari mereka tetap ingin bisa berbicara dengan manusia ketika menghadapi kendala, sementara 68 persen berharap petugas manusia sudah memahami konteks masalah tanpa harus mengulang penjelasan dari awal.

Head of Asia Zoom, Lucas Lu, menyebut perbedaan cara berpikir antara AI natives dan non-AI natives perlu dipahami oleh organisasi.

"Generasi muda di Indonesia menegaskan bahwa koneksi manusia tetap tak tergantikan. Loyalitas pelanggan dan karyawan akan sangat ditentukan oleh bagaimana perusahaan menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan sentuhan manusia," ujarnya.

Bagi generasi muda Indonesia, kehadiran AI sudah menjadi bagian alami dalam rutinitas kerja. Dalam riset tersebut, hanya dua persen responden yang mengaku belum menggunakan AI di tempat kerja, menunjukkan tingginya tingkat adopsi teknologi di kalangan pekerja muda. Sebagian besar responden juga sepakat bahwa kemampuan menggunakan AI menjadi nilai tambah besar dalam persaingan dunia kerja modern.

Sebanyak 83 persen responden di Indonesia percaya bahwa AI adalah keunggulan kompetitif yang wajib dimiliki setiap profesional. Mereka menilai teknologi ini tidak hanya mempercepat proses kerja, tetapi juga mampu berfungsi sebagai asisten cerdas yang membantu pengambilan keputusan lebih akurat dan efisien.

Di sisi lain, kelompok AI natives justru lebih kritis terhadap keamanan data dibandingkan non-AI natives. Sebanyak 68 persen responden muda menyatakan mereka hanya akan menggunakan AI jika perusahaan transparan terkait privasi dan perlindungan informasi pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan saja tidak cukup, melainkan harus dibarengi dengan rasa aman dan kepercayaan.

Dalam konteks pengalaman pelanggan, generasi muda di Indonesia memperlihatkan perilaku unik. Mereka tidak langsung meninggalkan suatu merek ketika kecewa, tetapi cenderung membagikan pengalaman negatifnya ke media sosial atau komunitas daring. Sebanyak 62 persen mengaku pernah mengekspresikan ketidakpuasan mereka ke publik, langkah yang dapat memengaruhi reputasi brand secara luas.

Bagi AI natives, komunikasi yang jelas, transparan, dan cepat menjadi kunci utama dalam menjaga loyalitas. Sebanyak 68 persen menginginkan transparansi dalam setiap interaksi dengan layanan pelanggan, 57 persen menuntut kepraktisan, dan 55 persen menilai kecepatan respon sebagai faktor penting. Ketidakmampuan merek memberikan solusi tepat waktu menjadi penyebab utama turunnya kepercayaan pelanggan di Indonesia, mencapai 60 persen atau jauh di atas rata-rata Asia Pasifik.

Perusahaan yang ingin memenangkan hati generasi ini harus beradaptasi lebih cepat dengan cara baru berinteraksi melalui AI. Mereka tidak hanya menginginkan teknologi yang efisien, tetapi juga sistem yang mampu memahami emosi dan memberikan jawaban personal. AI di masa depan, menurut riset ini, bukan hanya alat otomatisasi tetapi juga sarana membangun hubungan yang relevan dan bermakna antara manusia dan teknologi.

Lucas Lu menambahkan, "AI kini membentuk cara baru untuk berinteraksi baik sebagai pelanggan maupun karyawan. Di era AI ini, kepercayaan menjadi faktor utama, dan itu hanya bisa terwujud bila teknologi hadir tanpa kehilangan sisi manusianya."

Temuan ini menjadi pengingat penting bagi perusahaan di Indonesia dan Asia Pasifik untuk tidak hanya mengadopsi AI secara teknis, tetapi juga merancangnya agar selaras dengan kebutuhan emosional penggunanya. Ke depan, organisasi yang mampu menggabungkan kecepatan, efisiensi, dan empati akan menjadi yang terdepan dalam memenangkan hati generasi muda Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Transfer ke Daerah Menjadi ...

Ada Harapan dari Sepak Takraw Berempat untuk Menambah Medali

28 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Ada Harapan dari Sepak Takr...

Pertamina Patra Niaga Umumkan Harga BBM Per 1 Oktober

38 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
Pertamina Patra Niaga Umumk...
Advertisement
Kapolri Diganti, Paripurna DPR Setujui Komjen Suyudi Gantikan Jenderal Listyo Sigit

Kapolri Diganti, Paripurna DPR Setujui Komjen Suyudi Gantikan Jenderal Listyo Sigit

01 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.