- Home
-
- Luar Negeri
-
- Gaza Gulita di Tengah Mala...
Gaza Gulita di Tengah Malam Tiba, Pasokan Listrik Terputus
Selasa, 11 Nov 2025, 23:23 WIBGAZA - Di bawah terik sinar matahari di dekat reruntuhan Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza City, Shorouq Abu Naji (22) mencuci pakaian anak-anaknya secara manual di luar sebuah tenda.
Jari-jemarinya merah dan membengkak akibat mengucek pakaian.
"Kami tidak bisa lagi menggunakan mesin cuci karena pemadaman listrik yang berkepanjangan," ujarnya, sebagaimana warta Xinhua.
"Saya terus merasakan kesakitan di tangan. Kadang saya menangis karena rasa sakit itu."
Bagi Abu Naji dan ketiga anaknya, listrik telah menjadi kenangan yang samar.
"Selama lebih dari dua tahun, kami tidak merasakan listrik di area kami," tuturnya.
Putra sulungnya menyerahkan selembar kertas bernomor "15" kepada dirinya, sebuah token untuk mengambil kembali ponsel miliknya usai diisi dayanya di sebuah stasiun tenaga surya.
"Jika kami kehilangan kertas ini, kami tidak bisa mendapatkan kembali ponsel kami," ujarnya, sembari menambahkan bahwa ponsel tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi yang krusial sekaligus sumber cahaya yang penting pada malam hari.
Pada malam hari, suaminya menyalakan api kecil di luar. "Sebelum tidur, dia memadamkannya agar tenda tidak terbakar," tuturnya.
"Di dalam tenda, kami harus bergantung pada sinar senter ponsel."
Di seluruh Gaza, tenda-tenda darurat tetap gelap usai matahari terbenam, yang hanya diterangi oleh lilin, api kecil, atau cahaya redup dari layar ponsel.
Israel melancarkan operasi militer berskala besar di Gaza pada 7 Oktober 2023, usai serangan Hamas di Israel selatan yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan sekitar 250 lainnya disandera. Tak lama kemudian, Israel menerapkan "pengepungan total" di wilayah kantong tersebut, memutus pasokan air, listrik, dan bahan bakar.
Menurut Gaza Electricity Distribution Company, wilayah kantong itu telah kehilangan sekitar 1,2 miliar kilowatt-jam listrik sejak perang berkecamuk. Nilai kerusakan infrastruktur listrik mencapai lebih dari 728 juta dolar AS, kata perusahaan itu, dengan ribuan jaringan, transformator, dan meteran hancur.
"Semua hal yang kami lakukan kini bergantung pada tenaga fisik kami."
"Kini, pembangkit listrik hampir sepenuhnya tidak beroperasi," ujar juru bicara perusahaan itu Mohammed Thabet.
Tanpa jadwal yang jelas terkait perbaikan, mayoritas warga Gaza terus hidup tanpa aliran listrik, mengandalkan lilin, lampu tenaga surya, dan bahan bakar darurat. Ant/Xinhua
- Mati Listrik
- jalur gaza
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Deri Henriawan
Berita Terkait:
-
Petani Lebak Semangat Bertani Usai Harga Pupuk Subsidi Turun
-
Bulog NTT Salurkan 455.660 Kg Cadangan Beras Pemerintah untuk Warga di Kota Kupang
-
China Dukung Rencana Damai Donald Trump di Gaza, Upaya Akhiri Perang Semakin Dekat
-
Jembatan Raksasa di Tiongkok yang Baru Dibuka Ambruk dan Hancur
-
Listrik Padam: Teheran Gelap Gulita Usai Kembali Terkena Serangan AS
-
Faksi-faksi Palestina Setuju Komite Teknokrat Independen Ambil Alih Otoritas Gaza dari Hamas
-
Trump Ancam 'Harga Mahal' untuk Caracas, AS Siaga Kirim Intervensi Militer Baru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.