Rumah Tuo Rantau Panjang, Saksi Peradaban Suku Batin di Jambi
Sabtu, 08 Nov 2025, 14:21 WIBJAMBI - Rumah Tuo Rantau Panjang merupakan bangunan tradisional berupa rumah panggung yang menjadi saksi perkembangan peradaban Suku Batin dari animisme hingga Islam.
Bangunan bersejarah yang berada di Dusun Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai tempat untuk berbagai kegiatan sosial, upacara adat, dan pertunjukan budaya.
Hal itu menjadi daya tarik sehingga pengunjung baik dari dalam maupun luar daerah, bahkan tak jarang juga wisatawan luar negeri, masih berdatangan ke Rumah Tuo Rantau Panjang hingga saat ini.
Rumah Tuo Rantau Panjang biasanya ramai dengan wisatawan di kala musim libur, yang kebanyakan dari perguruan tinggi dan sekolahan. Wisatawan paling banyak dari luar Merangin yaitu dari pulau Jawa, sedangkan wisatawan luar negeri berasal dari Brunei Darussalam dan Malaysia.
Rumah Tuo hingga kini masih dirawat secara khusus dengan memberikan sapuan getah pohon ipuh, mengoleskan rempah seperti tembakau dan cengkeh kepada bangunan agar tetap berdiri kokoh.
Perjalanan ke Rumah Tuo Rantau Panjang dari Kota Jambi harus menempuh waktu selama enam jam sembilan menit menggunakan kendaraan bermotor dengan jarak sejauh 278 kilometer.
Akses menuju Rumah Tuo Rantau Panjang, bisa juga langsung dari Bandara Bungo lewat jalan lintas Sumatera menggunakan sepeda motor yang membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam 19 menit dengan jarak 58,3 kilometer
Rumah Tuo terletak di tengah pemukiman perkampungan masyarakat suku batin, yang merupakan salah satu suku di Provinsi Jambi yang berasal dari Kabupaten Kerinci. Kebudayaan mereka campuran antara Melayu Jambi dan Minangkabau.
Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V, Novie Hari Putranto, mengatakan benda maupun non benda terkait kebudayaan yang ada di sana masih lestari.
Pemukim Rantau Panjang berasal dari dusun yang bernama Koto Rayo yang berjarak kurang lebih 20 kilometer.
Dusun Koto Rayo dulu merupakan dusun yang cukup aman dan makmur, dipimpin oleh Poyang Depati yang dibantu oleh putrinya yang bernama Puteri Pinang Masak.
Alkisah, untuk menghindari serangan dari Raja Tun Telanai yang menginginkan Putri Pinang Masak, penduduk dusun tersebut berinisiatif untuk menghilangkan dusun mereka. Istilah menghilangkan bagi masyarakat setempat adalah disebut "limun", sebelumnya penduduk diperintahkan untuk pindah berpencar ke wilayah lain.
Jumlah kepala keluarga yang dipindahkan ada 60 KK, terbagi dalam Marga Batin Lima, yaitu Poyang Depati membawa 19 KK, Rio Seling membawa 14 KK dan Rio Pembarep membawa 13 KK.
Kemudian Rio Pulau Ara membawa sembilan kepala keluarga, Rio Pemuncak membawa lima kepala keluarga.
Poyang Depati, inilah yang membawa 19 kepala keluarga pergi ke wilayah Rantau Panjang, sesampai di sana mereka mendirikan pemukiman baru yang lokasinya terletak di Ujung Tanjung di pinggir aliran Sungai Semayo. Lokasi tersebut sekarang ini bernama Dusun Kampung Baruh.
Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Tabir Mukhtar YS mengatakan Poyang Depati yang membawa 19 kepala keluarga mendirikan bangunan Rumah Tuo pada 1330 masehi.
Sementara itu Tokoh Masyarakat Batin Iskandar hingga saat ini Poyang Depati sudah memiliki keturunan generasi yang ke 14. Pada masa generasi ke tujuh masyarakat dengan kepercayaan animisme kemudian memeluk agama Islam yang masuk pada 1653 masehi ke Rantau Panjang.
Rumah Tuo kemudian dijadikan tempat penyelenggaraan upacara adat. Salah satu upacara yang masih diselenggarakan sampai saat ini adalah upacara penutupan Bulan Ramadan yang rutin diselenggarakan pada hari ketujuh bulan Syawal. Upacara tersebut juga dimeriahkan tari-tarian, berpantun, dan pencak silat.
Arstitektur Bangunan
Rumah Tuo yang merupakan cagar budaya ini, memiliki ruang serambi atau sering disebut ruang masinding merupakan tempat menerima dan mendudukkan tamu.
Pembatas ruangan dengan ruang lain bukanlah dinding seperti pada umumnya, tetapi kayu balok atau disebut juga bendul jati yang berjumlah empat buah dan memiliki tinggi sekitar 10 centimeter.
Ruang itu memiliki ukuran 8,63 meter kali 1,8 meter, berfungsi tempat duduk tamu biasa saat musyawarah adat digelar.
Pada hari biasa ruang ini digunakan untuk tamu pria yang bukan saudara pemilik rumah, apabila melanggar aturan akan diberi sangsi adat.
Ruang tengah terdapat pada tengah bangunan utama yang terletak bersebelah dengan masinding. Ruang itu berfungsi sebagai tempat para gadis dan perempuan pemilik rumah saat musyawarah adat.
Kemudian juga digunakan sebagai tempat duduk dari para tuo tengganai untuk membuat rencana yang akan diajukan kepada tetua adat yang duduk di ruang Balai Melintang.
Ruang Balai Melintang merupakan ruang utama pada Rumah Tuo yang terletak di ujung sebelah kanan bangunan rumah induk dengan menghadap ke ruang tengah dan ruang masinding.
Ruang itu tidak memiliki sekat dinding dan lantai lebih tinggi daripada ruang yang lain. Balai Melintang atau bagian depan dibatasi kayu yang disebut bendul.
Kayu bendul memanjang menembus dinding rumah dan tampak dari depan, terdapat ukiran bermotif hias yang berfungsi untuk tempat duduk pemuka adat atau tokoh masyarakat terhormat (alim ulama, ninik mamak, cerdik pandai) pada acara musyawarah dan upacara adat.
Ruang Gaho adalah ruang yang terletak sejajar dengan pintu masuk. Pada zaman dahulu ruang ini memiliki fungsi sebagai tempat memasak atau dapur, juga untuk menyimpan tempat air yang terbuat dari bambu.
Di ruang gaho terdapat paho atau para yang berfungsi sebagai tempat untuk menempatkan peralatan dapur seperti bakul, kidding dan alat masak lain serta perlengkapan menangkap ikan.
Ruang Menalam berfungsi sebagai tempat menyimpan barang pecah belah, persedian makanan dan ruang makan.
Bilik Menalam berfungsi sebagai kamar gadis yang merupakan ruang tertutup rapat dengan dinding kayu dan memiliki pintu serta jendela.
Pada dinding bagian depan Bilik Menalam dan ruang Menalam pernah mengalami perubahan dengan memperluas ke depan, tetapi pada masa berikut telah dikembalikan pada tempat semula hingga sekarang.
Kolong rumah merupakan bagian bawah dari bangunan panggung yang berfungsi sebagai tempat menaruh kayu bakar, lesung penggiling padi, dan tempat bermain anak.
Selain itu di kolong terdapat sebuah bedug kuno untuk memanggil warga dengan keperluan tertentu.
Kondisi permukaan tanah pada kolong Rumah Tuo tidak rata disebabkan terkikis oleh aliran air waktu hujan. Akibatnya penopang tiang bangunan ada yang miring dan sudah menggantung.
- Wisata Jambi
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara, Lili Lestari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.