Sinergi Modal dan Negara: BEI-Danantara Siapkan Jalan IPO BUMN Besar

Kamis, 06 Nov 2025, 16:17 WIB

JAKARTA – Initial Public Offering (IPO) memungkinkan BUMN untuk menghimpun dana segar dalam jumlah besar langsung dari publik (investor) tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pinjaman bank atau anggaran negara, yang dapat digunakan untuk ekspansi usaha, investasi, atau melunasi utang.

Sebagai perusahaan terbuka, BUMN akan diawasi lebih ketat oleh publik dan otoritas pasar modal, mendorong perusahaan untuk menerapkan tata kelola perusahaan yang lebih baik, mengelola keuangan secara sehat, dan meningkatkan kinerja operasionalnya.

Ket. Foto: Pekerja melintas di depan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTOBayu Pratama S

Pengawasan publik dan tuntutan pasar modal mendorong manajemen BUMN untuk bekerja secara lebih profesional dan efisien, serta mengurangi potensi intervensi politik.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan telah menjalin sinergi dengan Danantara Indonesia, sebagai upaya untuk mendorong lighthouse company (perusahaan mercusuar) BUMN menggelar Initial Public Offering (IPO) di pasar modal Indonesia.

“Jadi harapan kita, harapan bursa, ada lighthouse-lighthouse yang nanti berasal dari State Owned Enterprise (BUMN),” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna dalam wawancara cegat, di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (6/11).

Namun demikian, Nyoman mengungkapkan sampai saat ini belum ada perusahaan-perusahaan BUMN yang berada dalam pipeline (antrean) untuk menggelar IPO di pasar modal Indonesia.

“Saat ini, kalau teman-teman bertanya, belum ada,” ujar Nyoman.

Ke depan, pihaknya optimistis kontribusi dari perusahaan-perusahaan BUMN dapat membantu pendalaman pasar di pasar modal Indonesia.

“Kami yakin ke depan kontribusi dari State Owned Enterprise akan dapat membantu market deepening dari pasar modal Indonesia," ujar Nyoman.

IPO lighthouse company merupakan aksi IPO dengan kriteria kapitalisasi pasar minimal Rp3 triliun serta free float sebesar 15 persen atau nilai kapitalisasi pasar free float lebih dari Rp700 miliar.

Per 29 Oktober 2025, BEI mengungkapkan terdapat tiga lighthouse company yang berada dalam pipeline (antrean) akan menggelar IPO di pasar modal Indonesia.

Secara keseluruhan, terdapat sebanyak 13 perusahaan berada dalam pipeline IPO, terdiri dari dua perusahaan beraset skala kecil di bawah Rp50 miliar, sebanyak enam perusahaan beraset skala menengah antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, dan lima perusahaan aset skala besar di atas Rp250 miliar

Nyoman memproyeksikan mayoritas perusahaan yang berada dalam pipeline tersebut akan melaksanakan IPO pada 2025, seiring hanya dua perusahaan di dalam pipeline yang menggunakan laporan keuangan per Juli 2025, sementara sisanya menggunakan laporan keuangan di semester I- 2025.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.