Ekonomi Melambat pada Triwulan III-2025, Sinyal Konsumsi Rumah Tangga Mulai Loyo?

Rabu, 05 Nov 2025, 16:30 WIB

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi nasional sedikit melambat pada kuartal III-2025, mencerminkan pelemahan daya dorong dari sisi permintaan domestik.

Kontributor utama, yakni konsumsi rumah tangga, tumbuh lebih moderat seiring berkurangnya tekanan inflasi namun belum diimbangi dengan peningkatan pendapatan riil dan keyakinan konsumen.

Ket. Foto: Ilustrasi - Dua warga berjalan di dekat stan pegadang di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA FOTO/ Aprillio Akbar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun sektor ekspor dan investasi relatif stabil, penguatan ekonomi masih bergantung pada upaya menjaga daya beli dan memperluas sumber pertumbuhan baru di luar konsumsi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Indonesia pada triwulan III 2025 tumbuh 5,04 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari konsumsi rumah tangga yakni sebesar 2,54 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian pada triwulan II-2025 ketika ekonomi tumbuh 5,12 persen (yoy).

“Jika dilihat dari sumber pertumbuhan pada triwulan III 2025, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan utama atau sumber pertumbuhan terbesar, yaitu 2,54 persen,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/11).

Selain itu konsumsi rumah tangga, pertumbuhan ekonomi triwulan III 2025 juga ditopang oleh komponen net ekspor dengan sumber pertumbuhan sebesar 2,15 persen dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 1,59 persen.

Secara struktur, konsumsi rumah tangga menyumbang 53,14 persen terhadap total produk domestik bruto (PDB), diikuti PMTB 29,09 persen dan ekspor 23,64 persen.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara tahunan (yoy) mencapai 4,89 persen, didorong peningkatan transportasi dan komunikasi, serta restoran dan hotel, sejalan dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan aktivitas wisatawan domestik.

Dari sisi produksi atau lapangan usaha, industri pengolahan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi triwulan III dengan andil 1,13 persen.

Kontribusi industri pengolahan terhadap total PDB mencapai 19,15 persen. Selain itu, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, yang jika ditotal bersama industri pengolahan menyumbang 65,02 persen dari PDB.

Secara tahunan, industri pengolahan tumbuh 5,54 persen yoy, didorong oleh industri makanan dan minuman; logam dasar; serta kimia, farmasi, dan obat tradisional, sejalan dengan permintaan domestik yang kuat dan meningkatnya ekspor.

Secara spasial, seluruh wilayah mencatat pertumbuhan positif. Sulawesi mencatat pertumbuhan tertinggi yakni 5,84 persen yoy. Sementara Jawa tetap menjadi penyumbang terbesar PDB nasional dengan 56,68 persen, diikuti Sumatra 22,42 persen.

Sebagai gambaran keseluruhan, ekonomi Indonesia berdasarkan besaran PDB triwulan III 2025 mencapai Rp6.060 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB) dan Rp3.444,8 triliun atas dasar harga konstan (ADHK).

Pertumbuhan ekonomi secara kuartalan (quarter to quarter/qtq) mencapai 1,43 persen, sementara pertumbuhan sepanjang Januari-September 2025 (cumulative to date/ctc) tercatat 5,01 persen.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.