Momentum Akhir Tahun, CORE Wanti-wanti Risiko Inflasi: Antisipasi Dini Gangguan Pangan
Selasa, 04 Nov 2025, 20:35 WIBJAKARTA â Menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, pemerintah perlu memastikan ketersediaan serta kelancaran distribusi pangan strategis untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi, mengingat momentum akhir tahun biasanya memicu peningkatan permintaan. Karenanya, penguatan cadangan pangan dan optimalisasi distribusi menjadi kunci agar tekanan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menjelaskan sejumlah komoditas pangan telah menunjukkan tekanan musiman menjelang Natal dan tahun baru, di antaranya cabai, beras dan bawang yang mulai mengalami kenaikan harga di sejumlah daerah.
âKarena itu, perhatian utama pemerintah dan Bank Indonesia (BI) ke depan adalah menjaga kelancaran distribusi dan memastikan pasokan pangan strategis tetap mencukupi sampai akhir tahun,â kata Yusuf saat dihubungi di Jakarta, Selasa (4/11).
Permintaan terhadap telur dan daging ayam memperlihatkan peningkatan, yang diharapkan menjadi efek dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, Yusuf mengingatkan, efek program ini terhadap inflasi perlu dilihat secara hati-hati.
Pasalnya, program belum terealisasi penuh dan relatif masih terbatas di sejumlah daerah, sehingga dampaknya terhadap harga sejauh ini belum terlalu besar. âNamun, jika realisasi meningkat, penting untuk mengamankan pasokan agar tidak menimbulkan tekanan harga di sisi bahan pangan hewani,â tuturnya.
Oktober Inflasi
Sebagaimana laporan Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia mengalami inflasi tahunan sebesar 2,86 persen year-on-year (yoy) pada Oktober 2025. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terbesar disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 4,99 persen yoy dengan andil inflasi 1,43 persen. Komoditas yang paling berpengaruh dalam kelompok tersebut ialah cabai merah, diikuti beras dan bawang merah.
Sementara menurut komponen, seluruh komponen mengalami inflasi, baik komponen inti, komponen harga diatur pemerintah, maupun komponen harga bergejolak (volatile food), dengan inflasi tertinggi tercatat pada komponen harga bergejolak.
Komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 6,59 persen dengan andil inflasi sebesar 1,05 persen. Komoditas yang memberikan andil inflasi adalah cabai merah, beras, bawang merah dan daging ayam ras.
Sedangkan komponen inti tercatat mengalami inflasi tahunan 2,36 persen dengan kontribusi terhadap inflasi umum sebesar 1,52 persen dan komponen harga diatur pemerintah naik 1,45 persen dengan andil inflasi 0,29 persen.Â
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Tasyakuran Fraksi PKB MPR
-
Cabai Tembus Rp120 Ribu, Warga Pulau Seribu Jadi Korban Mahal Logistik
-
Aneh! Stok Surplus tapi Harga Bergejolak, Legislator: Pembenahan Data Pangan Kunci Pengendalian Inflasi!
-
Patuhi Komando! Menkeu Purbaya Matangkan Skema Pelunasan Utang Whoosh
-
Inflasi Pangan Meningkat, Legislator Desak Skema Intervensi Hulu Diperkuat
-
Harga Emas UBS-Galeri24 di Pegadaian, Minggu (11/1), Masih Stabil
-
Filipina Porak-poranda Diamuk Topan Super Fung-wong, Ratusan Tewas dan Ribuan Mengungsi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.