Hadapi Disrupsi Industri, Menaker Minta Anak Muda Naikkan Level Skill
Jumat, 31 Okt 2025, 16:35 WIBJAKARTA â Dunia kerja terus berubah dengan pesat. Penguatan kompetensi, terutama dalam bidang digital, teknologi informasi, dan soft skill seperti pemecahan masalah dan berpikir kritis, mempersiapkan generasi muda untuk beradaptasi dan tidak tersingkir oleh otomatisasi dan perkembangan zaman.
Pasar kerja global sangat kompetitif. Generasi muda dengan kompetensi yang kuat memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, bahkan di perusahaan multinasional, serta berkontribusi pada peningkatan daya saing negara di kancah internasional.
Generasi muda adalah tulang punggung tenaga kerja masa depan. Dengan kompetensi yang relevan, mereka dapat mendorong inovasi, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan untuk negara.
Kompetensi yang kuat, termasuk literasi global dan kemampuan berkolaborasi, memungkinkan generasi muda untuk berpartisipasi aktif dalam memecahkan tantangan kompleks seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan kesehatan masyarakat
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengajak generasi muda untuk memperkuat kompetensi (skill) yang dinamis dan relevan demi menghadapi tantangan industri di masa depan.
Menaker dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (31/10), mengatakan tantangan dunia kerja ke depan semakin berat. Industri kini membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan sertifikasi, bahkan tenaga kerja yang mampu menguasai bahasa asing.
âBekal kompetensi yang kuat akan menjadi kunci untuk bersaing di dunia kerja,â kata Yassierli.
Salah satu upaya yang didorong oleh pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan adaptif terhadap kebutuhan industri, adalah dengan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) dan Project Based Learning (PBL) di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kemnaker.
Menurut Yassierli, PBL merupakan salah satu inisiatif baru Kemnaker di bawah kepemimpinannya. Melalui program ini, peserta tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah (problem solving).
âDisebut Project Based Learning karena peserta dilatih untuk menjadi problem solver. Misalnya ada proyek smart building atau smart farming, mereka bisa merencanakan, mengerjakan, dan menawarkan jasa atau solusi itu sendiri kepada perusahaan,â jelas pria yang juga Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
Dengan pendekatan tersebut, Menaker pun berharap para lulusan pelatihan tidak hanya siap diserap industri, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi dan membuka peluang kerja baru di masa depan.
âKita ingin lulusan pelatihan tidak sekadar menunggu tawaran pekerjaan, tetapi justru bisa menawarkan jasanya. Misalnya, mereka bisa bilang ke perusahaan, âSaya bisa mengotomatisasi operasional gedungâ atau mengotomatisasi yang lainnya,â ujar dia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.